Nanjak (onroad) Makin Diminati?

Berdasarkan cerita “sepuh”, dekade 90’an yang bersepeda nanjak ke jalur puncak pasti dianggap gila. Sekarang, justru makin banyak “orang gila” di jalur itu. Nggak percaya? Silahkan liat di saat weekend, pasti ada saja rombongan yang meliuk-liuk merangkak naik di kemacetan jalur puncak.

Belum lagi jalur-jalur lain yang kini jadi pilihan utama seperti, Curug Panjang, Curug Nangka, Gunung Pancar, Bojong Koneng, dan masih banyak jalur-jalur onroad lain yang diserbu para penikmat nanjak di saat weekend. Sempat ngobrol dengan beberapa penjaga warung lokasi-lokasi nanjak tersebut, komentarnya sama, “Makin lama makin banyak yang nanjak kesini,” ya, itu indikator.

Penyebabnya? Banyak. Hanya saja yang mencuat menurut saya adalah keinginan “mengefisiensikan sepeda yang sudah dimiliki”. Simpelnya, kebutuhan dan persiapan nanjak di jalur tanjakan onroad tidak “seribed” untuk bermain AM, XC, apalagi downhill. Tidak terlalu dibutuhkan frame fullsus, fork bersuspensi, apalagi peralatan safety seperti body protector dan helm fullface untuk berkeringat ditanjakan. Belum lagi masalah compatible atau tidaknya partpart pendukung untuk sebuah frame fullsus berharga tinggi.

Kalau sering mendengar istilah “Apapun sepedanya, yang penting dengkulnya,” itu saya sangat setuju terutama untuk para penikmat nanjak. Karena kalau istilah itu untuk pengemar AM, XC, atau Downhill sepertinya kurang tepat. Siapa juga yang mau drop off dua meter di jalur berbatu dengan Federal rigid? Oiya, tapi kalau versi saya, statement itu sedikit berubah; “apapun sepedanya, yang penting KEMAUANNYA,”. Seorang teman dari Bogor, dengan sepeda Polygon Premiere #1 miliknya, sangat sulit untuk diimbangi di tanjakan.

Selain itu, trend sepeda saat ini sedang berada di titik “retrospektif”, yang artinya pilihan-pilihan sepeda model “jadul” semakin diminati. Lihatlah agresifitas teman-teman “Bikepacker” dengan sepeda lawas ber-frame besinya, juga para “perintis” fixie di Indonesia dengan semangat memberdayakan frame lama dan part seadanya menjadi sebuah sepeda fixedGear yang makin diminati. Dua contoh itu menggambarkan kecenderungan “meng-efisiensikan” sepeda yang saya sebutkan di awal tadi, dan saya pikir hal itu juga menular ke MTB’ers (termasuk saya).

Kecenderungan itu ditambah dengan rasa “keingintahuan” para pesepeda (terutama pemula) untuk membuang kebosanan mereka bersepeda di perkotaan yang begitu-begitu saja (Pengalaman pribadi). Orang butuh sensasi baru, tantangan baru, dan tentu saja pengalaman baru. Maka sebuah “trip” yang mudah dan simpel menjadi pilihan utama, yaitu nanjak onroad, maka tak heran jalur tanjakan onroad semakin ramai “ditapaki” roda sepeda.

Kalau sudah begitu, (seperti dalam tulisan dari Om Emka) agenda rutin touring Tangerang-Bandung Rangers, Double Espresso Civitas 1PDN, Nanjak berjamaah Rodex (yang terakhir saya ikut) hingga 100 orang, “Tour de Curug” beberapa Rosela’ers, bahkan perjalanan inspiratif seorang “Bimar Si Jaket Merah” membelah TANJAKAN ASPAL Jawa Barat, sepertinya akan semakin menginspirasi “khalayak pesepeda”.

Sekian…

*Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi, iseng,  dan tanpa maksud apapun, apalagi maksa orang nanjak.🙂

10 Responses to Nanjak (onroad) Makin Diminati?

  1. aditya says:

    hore komen perdana..
    setuju bngt sama tulisan diatas..
    biar kata orang kurang kerjaan, tapi orang habis nanjak itu jadi lebih menghargai hidup..
    makan seadanya tetep enak.. punya sepeda cuman 1 seadanya ya tetep seneng bisa dipake kemana2..

  2. rifu says:

    iya, bahkan sekarang gw juga entah kenapa mulai menyambangi jalur bandung-lembang via setiabudi yang terhitung lebih rame daripada jalur bandung-lembang lainnya (seperti via dago bengkok, yang sebenernya aspal juga sih, hihi)..

    apa karena jalan raya dengan kelas jalan lebih tinggi sengaja didesain memiliki kemiringan gradien maksimal yang lebih rendah ya? hihi, abis sekarang nanjak juga pake singlespeed sih😛

    • northeist says:

      Ah, senangnya dikunjungi Mas Rifu..🙂

      Kalo gue pribadi sih, nanjak di tengah-tengah keramaian lalu lintas emang berasa ganteng aja, Rif..hehehehe..🙂

  3. Geza says:

    …”apapun sepedanya, yang penting KEMAUANNYA”…seperti pepatah kuno “There is a will, there is a way…goes uphill no matter what you pay” :p

  4. Van Jallu says:

    Salut….para master……..saya ingin coba , tapi kesempatan itu jarang didapat……..

  5. cheppy says:

    Like this…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: