Kuda Lumping; Lawakan dan Magis

Polah bocah bengal itu mengocok perut penonton, terlebih saat beradu omongan dengan lelaki sangar pemimpin kelompok Kuda Lumping. Tak begitu jelas apa yang dibicarakan, sesaat setelah menjawab pertanyaan, si bocah dihadiahi cambukan diiringi teriakan pura-pura kesakitan, sontak penonton pun tertawa. Terlebih saat si bocah berlari menghindari kejaran dan tertangkap, ia “ditenteng” kembali menuju tengah-tengah arena pertunjukan. Kali ini si bocah dipaksa untuk memakai topeng, dan menari sendirian, yang menjadi pemandangan kontra dari unsur magis yang melekat dalam setiap pertunjukan Kuda Lumping, paling tidak untuk awal pertunjukan.


Sungguh pembuka yang jenaka. Setelah itu, ‘kengerian’ sedikit demi sedikit dimainkan. Dimulai dari pertunjukan ketangkasan para lelaki dewasa anggota kelompok dalam memainkan api di mulutnya, dan disemburkan seperti naga. Wuuuzzzzzz…sesekali mereka pun merasa kepanasan, sambil memegang kumisnya yang terbakar.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, yakni sajian magis dari pertunjukan Kuda Lumping. Sang pemimpin mulai mengumpulkan asesoris pertujukan yang terdiri dari ember berisi air, keris, cambuk, dan tentu saja kuda lumping. Mulutnya komat-kamit, matanya mendelik kosong, dan ritual pun dimulai. Seorang pria bertato anggota kelompok mulai berdiri “menunggangi kuda”, tak lama kemudian badannya dicambuk. Cetaaaar… kata orang, cambuk itu untuk mengisi “kekuatan magis” ke dalam tubuh pria bertato tersebut. Memang, setelah itu si Pria langsung memasang kuda-kuda, dengan wajah tanpa ekspresi. Dia tidak sendiri, seorang pria lainnya juga melakukan hal yang sama. Keduanya berguling tak beraturan, hingga berebut minum di dalam ember hitam yang disediakan. Sayangnya, pertunjukan magis itu berlangsung tidak begitu lama.

Sebagai penutup, aksi-aksi lain juga dipertontonkan. Yang saya suka adalah saat pria bertato yang sebelumnya kesurupan, menunjukan kelihaiannya salto ke belakang beberapa putaran, seperti adegan kungfu.

Setelah itu, pria yang lainnya beraksi dengan melipat tubuhnya dan dimasukan kedalam sebuah lingkaran papan kayu yang sempit. Disini kejenakaan kembali dipertontonkan, si pemimpin kelompok menyodok bokong si pria yang sedang bersusah payah untuk keluar dari lingkaran. Mungkin untuk mencairkan suasana setelah adegan kesurupan, dan adegan itu lagi-lagi berhasil mengundang gelak tawa penonton.

Diakhir, seorang anak perempuan dibungkus menyerupai pocong, lalu dibaringkan di tanah. Tak jauh dari situ, sang pemimpin kelompok mengayunkan cambuknya tepat di atas tubuh perempuan kecil itu. dan jujur, saya sendiri tidak begitu mengerti apa maksud dari aksi tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: