Joko Arif, Forest Campaigner, Greenpeace Southeast Asia – Indonesia

Halaman ini berisikan tentang tulisan profil dan perbincangan dari narasumber yang pernah saya temui baik dalam kapasitas saya sebagai fotografer, reporter dan penulis untuk beberapa media klien.

(Foto & Teks: Rizal / 2010)

“Selamatkan Lingkungan Perkotaan Melalui Hutan”

Di Asia Tenggara termasuk Indonesia Greenpeace sangat memfokuskan kampanye penyelamatan hutan, sebenarnya seberapa penting arti hutan itu sendiri?
Kita harus lihat, di Indonesia dan negara manapun masalah global yang terjadi saat ini adalah perubahan ekstrim iklim atau cuaca yang disebabkan pemanasan global. Dan kontribusi hutan untuk perubahan iklim itu sangat luar biasa, karena itu pelestarian hutan sangat penting demi menjaga kemaslahatan hidup masyarakat.

Di Indonesia sendiri, sampai saat ini sudah seberapa parah kerusakannya?
Dalam 50 tahun terakhir kita telah kehilangan sekitar 50% hutan. Pada tahun 2007 Indonesia dinobatkan sebagai perusak hutan tercepat di dunia, dan itu masuk Guines Book Of Records, hitungannya itu sekitar lima kali luas lapangan sepakbola perdetik. Penyebabnya di Indonesia ada 4 sektor, yaitu pembukaan lahan kelapa sawit, pembukaan hutan untuk bahan baku kertas, pembukaan hutan untuk pertambangan, dan pembukaan hutan untuk logging activities.

Kalau yang utama adalah terkait pengembangan lahan sawit, sepertinya akan terjadi dilema dengan pengembangan energi terbarukan, dimana posisi Greenpeace?
Ini yang mesti diluruskan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa pengolahan kelapa sawit itu membuka lapangan pekerjaan, menyumbang devisa negara yang besar, karena itulah banyak yang menyebut bahwa Greenpeace itu anti pembangunan, dan sebagainya. Sebenarnya bukan begitu, kita melihat justru satu-satunya jalan untuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia agar berkelanjutan itu dengan menyetujui terlebih dahulu moratorium atau jeda tebang hutan. Karena kalau terus dipertahankan seperti sekarang maka dalam waktu 10 hingga 15 tahun ke depan hutan kita akan habis.

Kalau pemerintah berniat meningkatkan produksi kelapa sawit ada beberapa cara yang dapat ditempuh. Contohnya dari sisi produktivitas, di Indonesia lahan kelapa sawit itu hampir 8 juta hektar dengan produksi CPO di tahun 2009 sebanyak 21 juta ton. Di Malaysia, lahan yang tersedia hanya sekitar 4,8 juta hektar, tapi mereka bisa memproduski sekitar 19 juta ton CPO. Kenapa bisa begitu, ternyata dari 8 juta hektar lahan kelapa sawit di Indonesia 40% nya dimiliki oleh petani yang lahannya tidak lebih besar dari 25 hektar. Nah, lahan yang dimiliki petani ini ternyata produktivitasnya rendah, tidak sampai 50% produktivitas nasional.

Sebenarnya dari data itu, yang harus difokuskan untuk pengembangan CPO adalah yang 40% lahan ini, tidak perlu menambah lahan, kalu itu dilakukan selain menambah produktivitas kelapa sawit maka pendapatan para petani juga akan naik, tapi sayangnya pemerintah justru lebih mendengarkan kepentingan industri untuk terus membuka lahan.

Jadi yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah?
Tentu, sektor kehutanan di Indonesia ibarat kapal di tengah lautan yang mengalami kebocoran dibanyak sisi. Kebocoran itu diibaratkan sebagai celah pengrusakan yang dapat dimasuki air. Nah, air itu adalah para pengusaha atau perusahaan. Logikanya, kalau kapal mengalami kebocoran di tengah laut maka tidak bisa ditambal walaupun dari dalam, pada akhirnya nanti kapal itu pasti akan tenggelam juga.

Makanya, dalam logika pelayaran kapal itu harus dibawa kepelabuhan untuk dibenahi sesuai dengan perhitungan kerusakan. Begitu juga dengan sektor kehutanan, kalau mau diselamatkan maka perbaiki semua perundang-undangan yang tumpang tindih. Harus diidentifikasi dulu mana hutan lindung, mana hutan konservasi, yang mana untuk pertambangan dan perkebunan dan lain-lain. kalau sudah jelas, baru bisa dipergunakan sesuai dengan peraturan itu.

Bisa dikatakan tulang punggung pergerakan kampanye Greenpeace berasal dari sumbangan para donatur diluar pemerintah dan swasta, artinya masyarakat perkotaanlah yang banyak menyumbang. Apakah itu efektif dalam konteks penyelamatan hutan?
Berbicara tentang efektifitas, sejak tahun 2006 jumlah suporter Greenpeace terus mengalami peningkatan hingga sekarang jumlahnya mencapai angka 30 ribu suporter. Artinya, meski tidak bersinggungan langsung dengan hutan, tapi masyarakat perkotaan tetap menyadari pentingnya arti hutan bagi kelangsungan hidup mereka.

Memang seberapa penting kelestarian hutan bagi masyarakat perkotaan di Indonesia?
Dampak dari kerusakan hutan justru sangat rentan menimpa masyarakat pesisir seperti Jakarta, Medan, Makasar dan beberapa daerah lain. Bahkan banyak informasi yang dirilis bahwa pada tahun 2050-2070 setengah dari Jakarta itu akan tenggelam. Penyebabnya adalah peningkatan emisi global dunia, yang 20%-nya disebabkan oleh aktivitas penggundulan hutan dunia. Fakta lain juga Indonesia adalah emiter tertinggi untuk gas rumah kaca setelah Cina dan Amerika Serikat, dan 80% dari emisi Indonesia disebabkan oleh sektor kehutanan.

Akhir-akhir ini juga telah terjadi dampak yang mengerikan, yaitu semakin dekatnya frekuensi badai el-nino yang disebabkan perubahan cuaca. Dulu el-nino datang setiap 5 – 7 tahun sekali, tapi sekarang bisa 3 hingga 5 tahun sekali. Nah, yang menyebabkan Jakarta banjir setiap siklus 5 tahun sekali itu adalah El-Nino.

Artinya peran serta masyarakat perkotaan juga begitu penting?
Ya tentu saja, semua berperan penting termasuk masyarakat perkotaan. Jadi mari selamatkan lingkungan perkotaan melalui hutan.

Biasanya donasi itu bersifat kontinuitas, apakah ada reward bagi para donatur?
Dari sisi acountability dan informasi akan terus kami berikan kepada para suporter. Dalam jangka waktu tertentu kami selalu memberikan informasi baik melalui email maupun surat tentang apa yang telah kami lakukan, tiap akhir tahun kami akan berikan laporan keuangan dari tiap suporter dan lain sebagainya untuk para suporter itu.

Hal itu efektif?
Greenpeace satu2nya organisasi yang tidak menggunakan outsource untuk mencari dana. Jadi para pencari dana yang ada di mall atau disebut Direct Dialogue Campaigner (DDC), jalanan dan tempat lain itu adalah staff Greenpeace. Kita memilih demikian karena kita tidak ingin terjadi gap dalam penyebaran arus informasi. Dengan begitu mereka juga memiliki kewajiban untuk menjaga acountability dana yang diberikan oleh para suporter. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: