Obrolan Kematian

Saya termasuk orang yang takut untuk hadir dalam sebuah acara/prosesi kematian. Alasannya, acara kematian sudah pasti akan bernuansa kematian, dan bagi saya itu menakutkan walaupun kita semua sudah pasti akan mati, entah kapan. Namun hari ini saya harus mengenyampingkan alasan tersebut ketika seorang sahabat menyampaikan berita tentang kematian Papanya.

Masih jam 3 pagi saat kabar kematian itu turun,  dan saya sempat memutuskan untuk datang melayat saat itu juga, hingga akhirnya saya urungkan dan memutuskan untuk datang nanti saja, saat matahari terbit. Paling tidak agar suasana kematian sedikit berkurang, tergantikan oleh pancaran sinar matahari pagi.

Di gerbang rumah sahabat, apa yang saya takutkan seketika sirna. Selain sekumpulan manusia yang memakai “dress code” hitam, tak ada aroma kematian yang biasanya begitu kentara dalam prosesi serupa. Entahlah, saya pikir mungkin karena sahabat saya yang sedang berduka justru menyambut saya dan para pelayat lainnya dengan senyuman. Saya tahu dia sedih, paling tidak terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. Tapi apa yang dipancarkan wajahnya tetap saja bernama senyuman yang membuat orang seketika menjadi tenang.

Saya dan sahabat saya pun duduk, bertukar cerita tentang kematian dengan pelayat lain termasuk Bang Edward Tigor Siahaan, seorang fotografer terkenal yang berbicara tentang prosesi kematian dalam adat batak.

“Dalam adat kami, acara kematian bisa berlangsung selama 3 hari sampai seminggu,” ujarnya kepada saya. Namun menurutnya, saat ini prosesi tersebut tidak sepenuhnya dilakukan karena takut mengganggu kepentingan umum.

“Kalaupun dilakukan, lokasi biasanya dipindahkan ke rumah duka, bukan kediaman keluarga jenazah,” sambung Bang Tigor lagi, saya pun mengangguk.

Tak lama, mata kami bertiga tertuju kepada seorang pelayat yang baru saja datang. Seorang wanita, usianya cukup renta, mungkin sekitar 70 tahunan dan sudah pasti dia adalah teman dari almarhum Papa sahabat saya. Jalannya agak bungkuk, ia ditemani oleh anak, cucu, atau bahkan mungkin cicitnya, saya tidak pernah tahu. Melihat itu, sahabat saya pun bergumam pelan..

“Dulu Papa sering bercerita, setiap melayat ke acara kematian temannya, seringkali Papa merasa sedih karena satu-persatu temannya harus pergi meninggalkan dia lebih dulu,”

Suasana pun hening sesaat tanpa percakapan. Yang pasti, mungkin saat itu isi kepala kami bertiga adalah sama. Kami berpikir bahwa apa yang sebelumnya pernah dikatakan oleh almarhum Papa teman saya akan dikatakan juga oleh wanita tua itu. Entah setelah dia melihat jenazah Papa sahabat saya, atau sesaat setelah dia pergi meninggalkan rumah duka.

Itu adalah fenomena kehidupan dari orang yang berbeda namun saling berkaitan. Awalnya lahir, lalu tumbuh bersama, kemudian yang satu mati di waktu dan tempat yang berbeda, sedangkan yang satu lainnya hanya bisa meratap sedih karena telah didahului. Bagi yang hidup lebih lama saya yakin hal itu tidak akan membuatnya bosan. Lagipula untuk apa bosan, toh “MATI ADALAH HARGA MATI”.

“Berapa umurmu?” suara Bang Tigor mengagetkan lamunan saya. “Dua puluh delapan,” jawab saya.

Bang Tigor tersenyum tanpa suara. Caranya tersenyum seakan ingin mengatakan bahwa saya masih muda, bahkan mungkin terlalu muda untuk mati..

Duuh, siapa yang tahu,” ujar saya dalam hati.

Tapi dalam hati kecil, dengan amat sangat saya meng-Amini…

Semoga…

2 Responses to Obrolan Kematian

  1. sekar says:

    Tidak terasa hampir seratus hari telah berlalu
    Satu hal yang selalu aku yakini
    Bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban
    Dan kematian, hanya bagian dari keajaiban itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: