Apa Kabar Telepon Umum?

Coba diinget-inget, kapan terakhir kali lo ngegunain telepon umum (koin)? Kalo gua pribadi, terakhir pake kayaknya pas jaman SMA, dan udah lupa waktu itu dipake untuk nelpon siapa. Hmm, artinya udah lebih dari 10 tahun yang lalu, lama banget ya.

Sekarang ini sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya, gua ngelewatin beberapa titik yang ada telepon umum koinnya. Mulai dari yang berjejer 4 unit telepon, hingga yang cuma ‘sendirian’.

Tiap ngelewatin, udah pasti telepon umum-telepon umum tadi selalu sepi tanpa satupun pemakai, terbengkalai. Padahal dulu waktu jaman gua SMP, untuk mengobati rasa gatel denger suara cewek gebetan di ujung telepon, larinya ya ke telepon umum. Nah, tiap kali ke lokasi telepon umum deket rumah, antriannya panjang, padahal ada 4 unit telepon di situ.


Mungkin saat pertama kali telepon umum diciptakan William Gray tahun 1889 di Amerika sana, antriannya lebih panjang lagi kali yak. Sekarang kebalikannya deh, makin sepi peminat.

Kalo dipikir, trend teknologi emang beda dengan fashion sih ya. Sifat retrospektif yang berlaku di fashion, sepertinya nggak bisa berlaku untuk teknologi. Trend fashion bisa mengalir ke belakang, artinya model-model busana jadul justru makin diminati, bahkan bukan ngga mungkin pada suatu titik masa nanti, saat batas retrospektif udah mentok, trend yang berlaku adalah trend saat busana belum ditemukan. Alias bugil. J

Untuk teknologi, dulu kita sebagai pengguna pernah ketergantungan dengan telepon umum, lalu wartel, lalu telepon rumah, lalu Nokia pisang, sampe akhirnya dengan blackberry di tangan. Sekarang emangnya ada yang rela untuk menjadi ‘orang yang retrospek’, untuk dengan sadar menjadi user teknologi jadul sebagai pegangan trend? Boro-boro.Bahkan smart phone dengan kekurangan satu aplikasi yang lagi trend aja hidup kayaknya berasa engga lengkap ya. Termasuk gue juga, sekali termasuk gua juga. Hehe..

Sekarang ini rasanya lebih prefer untuk ngasih alamat email daripada nomor telepon. Sms seakan jadi fitur klasik yang males dilirik, juga lebih lama digubris dibanding keinginan untuk membalas email (bahkan yang kurang penting) dengan segera.

Iya nggak sih? Kalo gue sih ngerasa begitu. Itu cuma sedikit contoh aja, karena untuk contoh yang lebih banyak butuh waktu buat nulisnya, males. Dan sekarang udah waktunya pulang kantor. Yuk, mariiii..🙂

*photo by: me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: