Catatan Perjalanan Jakarta–Bandung, 31 juli 2011

Etape 1, Lebak Bulus – Puncak Cariu

Perjalanan kali ini dimulai dari rumah Bimar setelah malamnya memang sengaja menginap disana. Persiapan dan perlengkapan bisa dibilang matang. Cuma untuk rute, sampai menjelang keberangkatan malah baru ditentukan saya bakal lewat Cariu. Alasannya karena saya ngga tau jalan dari Lebak Bulus ke Cibubur. Berbekal sedikit petunjuk dari Bimar saya mulai mengayuh tepat di jam 04.30 WIB, dan positif lewat Cariu.

Suasana sepanjang jalur Lb. Bulus – Ps. Rebo masih sepi. Udara pagi Jakarta yang dingin dengan kentara menyeruak masuk ke pori-pori tubuh yang terbungkus jersey nyaman RRT. List lagu slow dari MP3 player mengiringi kayuhan di atas roda pinjeman Maxxis Detonator 1.75. Saat itu ada sedikit pertarungan dilematis antara mengayuh pelan untuk pemanasan, atau ngeyel ngebut memanfaatkan sepinya jalur Cilandak pagi hari? saya pilih yang pertama, mengingat perjalanan memang masih panjang.


Dengan speed di kisaran 20-25 kpj dikombinasi beberapa kali berhenti untuk sekedar bertanya arah jalan, akhirnya sampai juga di MCD Cibubur. Beberapa bulan lalu pada jam yang hampir sama, temen-temen Rosela juga berkumpul di sini untuk mengawali touring masal dengan rute dan tujuan yang sama. Bedanya, kali ini saya akan menyusuri jalan sendirian.

Jalanan lebar dan sepi, seakan sengaja memberi tempat pada angin untuk menyatu dan menghambat kecepatan laju sepeda. Angin sepagi itu memang cukup dingin dan berat untuk langsung ditempa. Tapi rasa exited yang besar pada touring kali ini membuat hal itu menjadi sedikit lebih mudah. “Pedal Harus Tetap Berputar”.

Masuk wilayah Cileungsi, lalu Jonggol, dan Cariu, seakan dihadapkan pada sebuah proses kehidupan yang unik yang terlihat menjadi lebih jelas dari atas sepeda. Suasana kota yang saya lewati masih sepi. Satu dua tukang ojek berebut mengejar angkot yang menepi, layaknya 2 ekor anjing yang mengejar tuannya untuk kemudian dilemparkan seonggok tulang ke jalanan.

Terkait angkot, sepanjang jalur ini juga menjadi salah satu media ujian buat saya. Pergerakannya unpredictable. Saat sang sopir telat melihat orang yang berdiri dari ujung kiri matanya, maka ia akan menepi saat itu juga, mendadak. Saya yang di belakangnya? Siapa peduli. Ibaratnya mereka adalah tuan rumah, saya sebagai tamu yang harus menyesuaikan diri.

Saat mengayuh, sesekali tangan kiri menggagahi kantong jersey, sekedar mengambil lembaran keju untuk membayar sarapan yang tertunda. Sebenarnya di sepanjang jalan sejak dari Cibubur banyak sekali warung-warung nasi, tapi bayangan akan eksotisme jalur Jonggol –Cariu di depan terlalu terus membayangi untuk segera dijambangi.

Sejak pertama kali melalui jalur ini pada touring akbar bersama Rosela memang sempat terpatri semacam keinginan untuk mengulangi melewati jalur ini lagi. Hamparan sawah hijau, sunrise dari sisi kiri padang sabana versi tanah Sunda, siluet pegunungan yang menyembul malu dari balik dinginnya kabut Cariu, seakan memang dipersiapkan khusus oleh Tuhan bagi kita, yang akan rela bercapek-capek memutar roda. Ditambah lagi teriakan bocah-bocah dekil ingusan di pinggir jalan saat melihat saya mengayuh, “Aya nu balapaan!” ujar mereka sambil menjulurkan tangannya.

Singkat cerita, saya sampai di Masjid Kubah Hijau. Para pesepeda yang sampai di lokasi ini hampir dapat dipastikan akan berhenti sejenak. Bukan untuk shalat (karena biasanya di lokasi sekitar jam 9-10 pagi), apalagi untuk sekedar mengagumi kemegahan masjid, melainkan untuk recovery energi sebelum memasuki beberapa km jalur di depan. Ya, tanjakan Cariu yang fenomenal, eksotis, bahkan menakutkan bagi banyak pesepeda.

Foto-foto sebentar, saya pun kembali mengayuh hingga semakin dekat dengan tolakan awal tanjakan. Meski tidak sedang balapan, tapi melakukan sesuatu dengan sedikit target adalah hal menyenangkan, termasuk saat nanjak. Target saya waktu itu, sampai ke Puncak Cariu dengan catatan waktu 30 menit, dan tentu saja tanpa sekalipun kaki ini terlepas dari pedal.

Jalanan sepi dan berdebu. Sesekali truk-truk besar melewati saya, bising, lalu menghilang lagi. Earphone di kuping mulai saya lepas, agar seluruh bagian dari tubuh dapat lebih meresapi aura tanjakan yang jarang saya lewati ini tanpa ada noise dari apapun, memang berlebihan sih.

Ada yang lucu, bahkan membuat saya tersenyum sendiri saat melewati sepertiga tanjakan. Saya kembali teringat touring akbar dengan Rosela. Sepanjang jalur ini ibarat menjadi ladang ‘pembantaian’, dimana satu-persatu dari banyak peserta berjatuhan, hingga harus antri naik ke mobil evakuasi. Yang lulus juga tidak dilalui dengan mudah, minimal sumpah serapah pasti terucap, paling tidak pertanyaan yang masih terngiang di telinga saya adalah; “Berapa jauh lagi?”. Haha, benar-benar ibarat nanjak napak tilas.

Oke, meski saya lupa dimana patokan yang menandakan saya telah mendekati Puncak Cariu, dari cyclometer yang menempel target waktu yang saya pasang sudah terlewati, sudah lebih dari 30 menit. Ya sudah, paling tidak satu target lagi bisa tercapai, kaki saat itu masih setia menempel di pedal.

Sampai akhirnya saya melewati sebuah tikungan menanjak dengan beberapa pekerja penghancur batu di sisi kiri jalan. Di situ baru saya ingat, inilah batas terakhir tanjakan Cariu. Beberapa puluh meter lagi saya akan finish di warung nasi. Saat itu, perut ini sudah tidak bisa dikibuli, lembaran keju sudah tak lagi menarik, selain makan besar. Memang terlalu cepat untuk waktu makan siang, namun terlalu lambat untuk sebuah sarapan formal yang seharusnya. Tapi perjalanan masih panjang, dan saya butuh energi tambahan. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti, makan selama 30 menit, waktu saat itu menunjukan jam 09.10 menit…

Notes: Etape 1, Distance: 82km. Time: 4Hours 30minute.

Etape II, Cariu – Bandung

Perut sudah terisi, lumayan cukup me-recovery energi yang terbuang setelah menempuh perjalanan sejauh 82km. Berbekal 2 plastik teh manis hangat di kantong belakang jersey, perjalanan kembali saya lanjutkan. Cuaca panas cukup menyengat, padahal belum menginjak jam 10 pagi. Untungnya saat otot-otot kembali melemas, beberapa km ke depan merupakan jalur menurun yang cukup untuk ‘memanasi’ kembali, terutama otot paha.

Memang, selepas puncak Cariu merupakan jalur yang cukup mengasyikan. Rolling naik turun, berkelok, sepi, dan membuat nyaman dengan kesendirian di tengah hamparan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Namun keadaan akan berubah drastis saat memasuki pertigaan besar Jonggol – Ciranjang.

Di jalur itu waktu sudah menunjukan hampir jam 11.00 siang. Teriknya bukan main. Parahnya lagi, saya harus melalui sisa perjalanan tanpa kacamata hitam yang tertinggal. Tapi kembali ke peraturan pertama, “Pedal Harus Tetap Berputar”.

Kanan kiri jalan merupakan area persawahan luas yang sedang panen. Dampak dari itu lahan kering yang telah panen tentu akan dibakar untuk memberantas sisa-sisa hama. Jadi bisa ditebak, asapnya mengumpul menutupi jarak pandang di jalanan. Dan tentu saja membuat sesak. Tapi biarlah, itu kan pesta mereka, kaum petani. Dan saat itu saya hanya sekedar lewat, tak ada alasan untuk protes.

Mengayuh di tengah teriknya cuaca, akhirnya roda sepeda mulai menapaki jalur utama Cianjur-Padalarang. Sungguh, kalau saja saat itu saya diberikan kesempatan untuk belajar menari, saya akan mempelajari tarian hujan untuk segera mengusir kesombongan matahari di atas tanah Padalarang. Tak hanya itu, angin pun seakan berkonspirasi dengan matahari untuk menghambat laju siapapun yang melewati jalur itu, kayuhan terasa berat.

Putar otak, hingga akhirnya sampai ke pemikiran bloon yang terpaksa saya anggap logis. Pada beberapa titik seringkali saya menjumpai kepadatan lalu lintas yang membuat laju kendaraan truk-truk besar menjadi pelan, paling hanya sekitar 20-25 kpj. Disitulah saya mengambil keputusan untuk menghindari terpaan angin dengan berlindung di belakang truk. Saat truk sudah semakin mengencang, saya kembali melipir, sambil menunggu moment yang sama terjadi. Lumayan, sedikit membantu.

Singkat kata, Masjid Rajamandala baru saja saya lewati. Artinya tanjakan Padalarang di depan telah menjelang. Liat arah jam, menunjukan jam 12 siang. Sungguh ‘menu makan siang’ yang aneh. Tanpa terasa jalur mulai menanjak, dan kembali teringat touring akbar Rosela lalu. Bedanya dengan Tanjakan Cariu, tanjakan Padalarang bukan lagi menjadi tempat utama ‘pembantaian’, karena kebanyakan peserta yang sudah tidak mampu melanjutkan telah diangkut mulai dari Masjid Rajamandala sana. Disini tak ada target waktu. Bahkan saya pun sempat beberapa kali berhenti untuk meregangkan otot dan foto-foto di tengah padatnya arus kendaraan.

Sedikit demi sedikit, akhirnya sampai juga saya di puncak tanjakan. Dari kejauhan terlihat arah turun ke Cimahi sudah macet total. Terpaksa harus pintar-pintar melipir ke trotoar jalan untuk bisa melewati antrian kendaraan hingga akhirnya saya sampai ke persimpangan besar jalan tol Cimahi.

Kembali lirik jam, hampir jam 1 siang dan sudah memasuki wilayah Cimahi. Di sisa kilometer ini ibarat victory lap aja. Semua sisa tenaga tinggal dihabiskan demi kepuasan. Tapi dasar belagu, sampai di perempatan besar malah sempat kram, paha kanan dan betis kiri yang datengnya berbarengan. Berhenti 15 menit, guyur kaki kanan kiri, dan lanjut ke tempat tujuan akhir.

Akhirnya, untuk ketiga kalinya sepeda ini berhasil menapakan roda di tanah bandung. Bedanya perjalanan kali ini jauh lebih berkesan karena hanya dilalui dengan saya, roda depan sebagai road captain, dan roda belakang sebagai sweaper, dengan waktu tempuh 9jam 48menit.

Sebenarnya yang terpenting bukanlah masalah jarak dan waktu, melainkan apa substansi dari sebuah perjalanan menggunakan media bernama sepeda. Dari segi jarak dan waktu, perjalanan ini belumlah seberapa bila dibandingkan dengan banyak teman, terutama yang terdekat adalah dari seorang Bimar “The Legend” Sitanggang, yang keesokan harinya cuma butuh waktu 6 jam untuk menempuh rute yang sama. You Are the One, Bimsky.

Hanya saja akan menjadi sangat berarti ketika kita bisa menghilangkan berbagai tetek bengek arogansi pribadi dalam sebuah komunitas, perkumpulan, atau apapun itu sambil mengayuh bebas, pelan, bersiul, tanpa batasan, dan membiarkan tetesan peluh membasahi tubuh di tengah rerimbunan hutan pinus dan teriknya cuaca.

Sekian….

Notes: Total Distance: 161km. Time: 9hours 48minute.

Thanks to: Kanna krim kaki, RC Pro, dan Aquafarm, atas dukungan materinya hingga melahirkan jersey yang luar basa nyaman dipakai selama perjalanan.

3 Responses to Catatan Perjalanan Jakarta–Bandung, 31 juli 2011

  1. Nano says:

    Keren memang Om Rizal ini… :-bd

  2. copas yak buat web…l
    mo diadu sama bimar nih ceritanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: