Cerita Kang Heru

Entah berapa umurnya, saya ngga sempat tanya. Pria ini bernama Heru (saya memanggilnya Kang Heru), yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Monumen Nasional (Monas). Kang Heru adalah talent foto dadakan saya untuk pembuatan kartu lebaran kantor.

Laki-laki asal Tasik, bicaranya mirip orang teler, dan gemar sekali menyebut nama orang lain saat ngobrol. Misalnya saat ditanya tentang gaji, dia menjawab, “Gaji gua mah kecil, gedean si Ucup,” ada lagi begini; “Kalo makan paling ngebon di warteg, si Mira yang beliin”. Siapa Mira, siapa juga Ucup? Mungkin dipikirnya saya kenal.

Disela-sela take foto (5/08/2011), ngobrol ngalor-ngidul dengan Kang Heru ternyata cukup menyenangkan, juga mencengangkan. Terutama saat mendengar tentang keseharian dia dulu dan sekarang. Dulunya, Kang Heru bekerja sebagai Joki 3 in 1 dan tukang parkir liar di seputaran Sudirman. Saat ditanya lebih enak mana dengan pekerjaannya yang sekarang, tanpa ragu dia bilang lebih enak yang dulu. Loh, bukannya pekerjaan yang sekarang gajinya lebih pasti?


Memang, tapi dari segi jumlah, perbandingannya cukup jauh. Dari nge-joki dan parkir, seharinya Kang Heru bisa ngantongin uang Rp 100 ribu lebih, karena memang dia sudah punya beberapa langganan. Nah, gajinya yang sekarang, perbulannya Kang Heru cuma dibayar sebesar Rp 1,1 juta, tanpa seharipun libur. Catat, tanpa libur! Lalu kenapa dia berhenti nge-joki? Ternyata alasannya karena kapok ‘kegaruk’ penertiban.

Untuk keluar dari Kedoya, harus nebus,” katanya dengan tampang lempeng.

Selain itu, yang menarik juga saat Kang Heru cerita tentang teman-temannya yang berprofesi sebagai pengemis saat dia jadi tukang parkir dulu. Sering liat kan pengemis yang suka gendong-gendong anak bayi? Nah, kalau bukan anak sendiri, tuh pengemis harus siapin ‘uang sewa bayi’ perharinya sebesar 50-60 ribu. Makin kecil umur si bayi konon uang sewanya akan semakin mahal.

Untuk mengejar setoran, kata Kang Heru beberapa cara akan dilakukan si pengemis untuk mengais iba orang-orang. Cara yang paling jitu tentu saja dengan air mata sang bayi. Mungkin si pengemis belajar, bahwa di masyarakat kita air mata memang jadi hiburan yang laris? Sinetron banyak adegan nangis. Bahkan sampai acara dakwah, ending¬-nya pun si ustadz akan berdoa sambil sesengukan, demi ‘rating’. Hussh, kok melebar?

Pertanyaannya, gimana cara bikin si bayi nangis? Nangis makin keras, maka ‘rating’ makin tinggi, donatur pun makin banyak. Cara pertama adalah dengan dicubit. Kata Kang Heru, untuk beberapa saat selama dalam gendongan, si Bayi akan dapat ‘menu spesial’ berupa cubitan-cubitan agar menangis kejer.

Cara yang kedua, yakni dengan tidak dikasih minum. Kebayang nggak, di tengah cuaca panas, akan bagaimana reaksi bayi yang kehausan? Nangis menjadi-jadi bukan? Nah, situasi seperti itulah yang diinginkan para pengemis, minum untuk si bayi akan ditunda sedikit demi sedikit. Tangisan bayi lagi-lagi akan menjadi jurus ampuh penggelontor uang dari saku ‘donatur’ ke kotak lusuh yang sudah disiapkan pengemis.

Kalau sudah begitu, dengan menempatkan diri kita sebagai orang biasa yang kebetulan lewat depan pengemis, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak memberikan uang ke pengemis, atau dengan sukarela mengeluarkan recehan dari kantong kita, paling tidak untuk sedikit mengurangi ‘jam nangis’ si Bayi? Saya sendiri tadinya mau minta pendapat Kang Heru untuk menjawab, tapi saat itu cuaca sudah mendung, dan Kang Heru harus segera kembali bekerja.

Oiya, sebelum beranjak saya sempat bertanya gimana kalau seandainya saat Kang Heru sedang menyapu di wilayah Monas yang lapang tanpa tempat berteduh itu, tiba-tiba turun hujan? Dia langsung menunjuk ke arah mobil toilet umum nggak jauh dari situ. Di kolong mobil itu, 2 orang rekannya sedang tidur.

Kaya mereka, saya neduh aja di kolong mobil sampe ujan berhenti,” katanya.

Baiklah, saya pulang. Selamat bekerja Kang Heru.

2 Responses to Cerita Kang Heru

  1. Jeung Vita says:

    speechless…
    soal sewa bayi itu sudah sering denger. tp denger lagi, kok gimanaaaa gitu😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: