Logika

“Karena kepicikan ditimbulkan oleh kecintaan akan pengakuan…”

Siapa yang tidak mau dianggap penting, menjadi sesuatu yang spesial di lingkungan, dan mampu menahan godaan untuk berbeda dengan orang lain yang lebih ‘biasa’ ?

Untuk mengatakan tidak, sesungguhnya sangat berat. Masalahnya, jalan apa yang dipilih? Salah satu jalan termudah Anda tahu? Adalah kemarahan, dendam, dan kebencian terhadap orang lain.

Interaksi keseharian terkadang begitu manis, namun bisa saja terbungkus rapih oleh kepentingan pribadi. Sekali, dua kali, selalu tertutupi dengan kalimat manis berikutnya. Bahkan saat baru terucap, bisa saja kalian sadar dan kaget, “Mengapa saya melakukan hal itu?” tapi bagaimana, kemarahan selalu datang lebih cepat dari logika.

“Logika hanyalah kura-kura, untuk melawan Kemarahan berwujud leopard yang lapar…”

Lalu? Sudahlah, bila menemui perlakuan seperti itu, simpan dalam hati. Hadapi dengan logika, dengan begitu kemarahan dan kedengkian yang menjadi pijakan si penyerang akan hancur seketika, menjadi sebuah rasa terpesona terhadap diri kita.

“Melawan dengan kemarahan, maka kita pun telah kehilangan pijakan atas diri kita sendiri…”

 

2 Responses to Logika

  1. Jeung Vita says:

    tapi memendam marah juga ga bagus lho, mas.
    idealnya, marah disalurkan secara tepat. tak usah disangkal. kata pakar gitu sih, krn kl dipendem2 dan disangkal, nanti kekecewaan itu meluap dalam bentuk lain yang tak kalah merugikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: