Jalur Cepat, atau Jalur Lambat?


Dari dulu bahasan mengenai pesepeda yang gowes di jalur cepat seakan nggak pernah ada habisnya. Sebagian menganggap wajar, sebagian lagi menganggap salah. Ada juga yang netral, artinya dia berpendapat saat jalur cepat mulai macet, baru dia akan gowes di jalur cepat. Alasannya sama, selain karena macet, perilaku motoris di jalur lambat juga dianggap berbahaya.

Akhir-akhir ini bahasan mengenai hal itu kembali memanas, paling tidak di wall Facebook saya, hehehe. Berawal dari diskusi singkat dengan seorang teman mengenai hal di atas, iseng-iseng saya membuat status Facebook begini;

“Apa bedanya motoris yang nyerobot lampu merah, dengan pesepeda yang ngegowes di jalur cepat?”  

Wow, berbagai tanggapan pun muncul. 100% yang komentar adalah para penggiat sepeda. Jawabannya beragam, mulai dari yang serius sampai yang menjawab apa adanya dan nggak nyambung. Beberapa meski menjawab secara halus, tapi terlihat seakan mereka nggak sudi disamakan dengan para motoris yang melanggar aturan.

Eh, tunggu dulu. Status Facebook yang saya tulis pun bukan berarti saya men-generalisir  bahwa pesepeda dan motoris yang saya maksud adalah sama-sama pelanggar aturan loh. Sekali lagi, itu cuma pertanyaan saja. J

Dari banyak komentar tersebut, ada hal yang menarik yang menggiring saya pada pemahaman bahwa meski bahasan ini bisa dibilang sudah menjadi bahasan kuno, namun ternyata ada hal paling fundamental yang justru belum dipahami oleh para penggiat sepeda, yakni mengenai PERATURAN itu sendiri.

Dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Angkutan Darat, Pasal 108 ayat (3), disebutkan begini:

“Sepeda Motor, Kendaraan Bermotor yang kecepatannya lebih rendah, mobil barang, DAN KENDARAAN TIDAK BERMOTOR berada pada lajur kiri Jalan.”

Loh, mana kalimat yang ditujukan untuk sepeda? Kalau mengacu pada Wiki, KENDARAAN TIDAK BERMOTOR yang dimaksud di pasal tersebut adalah;

Kendaraan yang tidak dilengkapi dengan motor penggerak, tetapi digerakkan dengan tenaga manusia seperti SEPEDA, becak,  atau digerakkan dengan tenaga hewan seperti delman yang dilengkapi dengan 4 roda, sado, cidomo (singkatan dari cikar dokar mobil) yang ditarik dengan tenaga kuda ataupun gerobak yang ditarik oleh kerbau, sapi, kambing, ataupun manusia.”

Pertanyaannya, kenapa sampai saat ini hal itu selalu menjadi bahasan yang ngga pernah selesai? Selain faktor ketidaktahuan, hal penting lainnya menurut saya adalah peran aparat berwajib (dalam hal ini Polantas di lapangan). Coba lihat, siapa yang sudah pernah ditegur polisi saat melintas di jalur cepat? Saya yakin hanya segelintir dari kita saja. Nah, hal itu lah yang membuat peraturan semakin rancu. Akhirnya, kombinasi dari ketidaktahuan dan pembiaran atas peraturan tersebut lama kelamaan berubah menjadi sebuah pembenaran dalam diri kita.

Saya hanya mau mencoba berpikir objektif. Biar bagaimanapun dari segi peraturan, bersepeda di jalur cepat tentu saja merupakan sebuah pelanggaran. Tapi saya pun tidak mau se-egois itu dengan tidak menghargai keringat para penggiat sepeda yang merupakan agen perubahan lingkungan dan sosial.

Meski saat ini saya sudah tidak lagi rutin bersepeda ke kantor, saya pun dulu pernah merasakan bagaimana ngeri-nya bersepeda di jalur lambat di tengah kepungan para motoris yang gila, juga perilaku ugal-ugalan para sopir bus kota. Akhirnya di tengah keputusasaan, sesekali melompat ke jalur cepat menjadi pilihan terakhir, meski sangat jarang.

Untuk saat ini, jalan tengah dari perturan dan pembiaran tersebut adalah apa yang dinamakan dengan PILIHAN. PILIHAN untuk tidak masuk jalur cepat karena takut melanggar peraturan, atau pilihan untuk masuk jalur cepat demi menghindari kemacetan jalur lambat, yang bila dilakukan toh juga tidak akan ditangkap polisi.

Bicara risiko, saya pikir sama saja. Karena di jalur cepat pun mindset yang ada di benak pengendara adalah jalur itu hanya khusus untuk kendaraan roda 4 atau lebih, jadi tingkat awareness mereka bahwa ada pesepeda di jalur itu sangatlah kecil kemungkinannya.

Nah, kalau risikonya sama, tinggal bagaimana kita dapat berpikir bijak. Seandainya terjadi apa-apa dengan kita (naudzubillah min dzalik), di jalur yang mana kita mempunya legitimasi hukum sebagai korban? Jalur cepat atau jalur lambat?

Salam berjuta sepeda…

2 Responses to Jalur Cepat, atau Jalur Lambat?

  1. hidup emang pilihan bung. selamat memilih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: