Setapak Panjang Lebaran

…Melesat ratusan kilometer di atas Tanah Sunda, menembus gumpalan hawa panas yang terpantul aspal Cariu-Padalarang-Nagreg, merasakan kengerian saat berada di tengah sepi, dingin, dan gulitanya jalur perbatasan Garut-Tasikmalaya, menjadikan touring kali ini begitu sarat makna…

(catatan perjalanan Jakarta-Kp.Naga, 28-31 Agustus 2011)

Hari ke-1.

Rombongan yang terdiri dari Saya, Bimar, Adit, David, Aya, dan Meika, berangkat dari Lebak Bulus pada hari Minggu, 28/8/2011, sekitar jam 6 pagi. Rute hari itu adalah Jakarta-Cibubur-Cariu-Padalarang-Cimahi. Sejak dari Cilandak sudah tak ada lagi kemacetan. Di jalan hanya berseliweran para pemudik bermotor dengan ‘gendolan’ menggunung. Beberapa di antara mereka tersenyum ke arah kami, mungkin heran melihat rombongan pesepeda yang juga membawa banyak ‘gendolan‘.

Memasuki Cibubur hingga Jonggol, laju sepeda dengan kecepatan 25kpj di jalan datar merupakan hal yang wajar mengingat perjalanan memang masih sangat panjang. Sesekali untuk melawan bosan, beberapa dari kami bergerak agak cepat di tanjakan, sambil berceloteh dan bertingkah ‘tengil’ layaknya sedang berada dalam lintasan “Tour de France”. Terus saja begitu sampai ke titik kumpul pertama di wilayah Masjid Kubah Hijau, Cariu. Titik ini selalu dipilih menjadi tempat rehat, karena setelah itu rombongan akan ‘dipaksa’ untuk ‘menikmati’ eksotisme tanjakan Cariu yang kejam.

Bukan main panasnya saat itu. Sudah hampir tengah hari, dan sengatan mataharilah yang memaksa Meika untuk memutuskan mencapai Puncak Cariu menggunakan pick-up yang di-stop-nya di tengah jalan. Sebagai catatan, hal seperti ini yang saya suka. Cepat memutuskan apa yang harus dilakukan untuk mempermudah diri, tanpa keluhan, dan tanpa emosi, demi kebaikan bersama. Selain Meika, rombongan terus mengayuh melanjutkan perjalanan meski terpencar. Dan kita semua berkumpul di warung Puncak untuk istirahat tepat tengah hari.

Satu jam istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan masih diiringi terik matahari. Tak ada kendala berarti selain sedikit waktu yang terbuang karena melepas fender sepeda Bimar yang bermasalah memasuki pertigaan Ciranjang. Kami tiba di Gapura besar Padalarang sekitar pukul 4 sore, dan berhenti sejenak untuk menikmati dinginnya es cincau. Bayangan saya sebelumnya, kondisi jalur utama Padalarang pasti akan padat dan macet oleh kendaraan pemudik. Ternyata sebaliknya, jalanan begitu lengang. Hanya dominasi kendaraan bermotor dengan tas-tas besar di atasnya.

Tak lama di situ, kami kembali bergerak. Sudah sekitar jam 5 sore, artinya kami akan melahap tanjakan Padalarang pada malam hari. Ini adalah pengalaman baru, karena sebelum-sebelumnya jam segitu biasanya kami sudah berada di Situ Ciburuy, setelah puncak Tanjakan Padalarang.

Ternyata tak seberat yang dibayangkan. Meliuk di tanjakan Padalarang pada malam hari hanya soal bagaimana kita bisa melawan rasa bosan. Tak ada lelah yang berarti, kecuali ya rasa bosan itu. Beberapa kali lewat situ saya sendiri tak pernah tau pasti apa dan dimana  patokan puncaknya. Cukup menerka-nerka, sambil menikmati kayuhan di tengah dinginnya udara malam, sampailah rombongan di Situ Ciburuy.

Istirahat sebentar, lalu lanjut untuk makan malam di sebuah Mall di Cimahi. Untuk bermalam, kami masih belum tau akan tidur dimana. Hingga akhirnya saat bersiap pergi selesai makan, petugas parkir yang terbelalak saat tau tujuan kami akan ke Tasik menawarkan untuk menginap di Mushala basement mall dengan keamanan yang terjamin. Ternyata bukan hanya aman, melainkan juga cukup nyaman. Akhirnya diputuskan, perjalanan 140km-an hari itu kami akhiri disitu…

Hari ke-2.

Pagi telah menjelang. Kami pamit ke petugas jaga mall, dan sekitar jam 6.30 segera meninggalkan ‘penginapan’ tanpa paket breakfast tersebut. Rute hari itu adalah ke Kampung Naga via Nagreg, Garut. Dinginnya udara pagi sungguh menusuk pori-pori tubuh, yang akhirnya kami siasati dengan sepiring kupat tahu hangat persis di bawah Gapura perbatasan Bandung-Cimahi.

Untuk mencapai Nagreg, kami memilih melewati bypass Jl. Soekarno Hatta, Cileunyi, Cicalengka. Ketika mendekati gerbang pertigaan Nagreg, beberapa pemudik bermotor menyempatkan menghampiri saya dan bertanya dari mana hendak kemana. Saat dijawab, semua hanya tersenyum, menggelengkan kepala, lalu pergi sambil mengacungkan jempol.

Di jalur ini Meika sedikit bermasalah dengan otot pahanya, karena itu keputusan untuk mendorongnya di titik-titik jalur yang menanjak harus dilakukan. Syukurlah, hingga memasuki Nagreg semua aman terkendali, mental anggota rombongan masih terjaga dengan sempurna. Itu yang terpenting

Kami memasuki Garut lewat jalur cagak Nagreg yang lama, bukan Lingkar Nagreg baru yang sebenarnya sudah bisa digunakan. Suasana jalan sepi, puncak arus mudik sudah terlewat sehari sebelumnya. Kata penjaga warung tempat saya me-refill­ bidon, Nagreg hingga Garut macet total pada malam sebelum kami datang hari itu. Kami beruntung.

Setelah makan siang, kami mengayuh melewati jalur perbukitan Leles yang sempit dan menanjak. Rombongan agak terpencar, namun tetap saling menjaga. Di jalur ini bila ada rekan yang kelelahan tidak mungkin untuk mendorong, terlalu berbahaya. Akhirnya meski pelan, jalur perbukitan tersebut berhasil kami lewati tanpa sedikitpun kendala hingga masuk Kota Garut.

Hari sudah cukup sore, dan sampai saat itu belum ada pengumuman pemerintah tentang Idul Fitri yang ternyata jatuh pada hari Rabu, bukan besok (selasa 30/8/2011). Kumandang takbir dari surau-surau pedesaan pun sudah terdengar menemani perjalanan kami. Sisa perjalanan sekitar 30km lagi dari Kota Garut ke Kampung Naga. Menuju Kecamatan Cilawu, kontur jalan cuma satu jenis, yaitu tanjakan panjang yang seakan tanpa ujung.

Kami mulai menanjak pelan, perlahan, sambil sesekali membalas senyuman warga yang terlihat menyemangati kami dari sisi jalan. Dan di sebuah tempat yang pas disebut sebagai puncak tanjakan, kami berhenti sejenak. Di situ semua lelah seakan terbayar. Hamparan tanah hijau yang luas tertata rapih di bawah kami, terbalut bayangan tipis pegunungan yang tersinari matahari sore. Sungguh mahakarya agung dari Tuhan maha pencipta. Berdiri di atasnya, dengan dengungan takbir di telinga seakan membiarkan Tuhan berbisik menyampaikan pesan bahwa apa yang kami lihat saat itu hanyalah satu dari berjuta tempat indah yang belum kami kunjungi dengan sepeda kami.

Namun kami tak berlama-lama disana, sisa belasan kilometer ke Kampung Naga harus segera diselesaikan. Dari situ masuk ke Kecamatan Selawu jalur didominasi turunan berkelok. Semakin sore, hingga akhirnya benar-benar gelap. Ada beberapa titik jalan yang berada di antara tebing dan lembah tanpa sedikitpun penerangan. Hanya penerangan dari lampu sepeda yang kami andalkan.

Udara dingin pun mulai menyergap jalur perbatasan Garut-Tasikmalaya tersebut. Meski jalur terus menurun, gulita tetap memaksa kami untuk tetap meluncur pelan. Hingga akhirnya dari kejauhan, terlihat kelipan cahaya lampu sepeda rombongan depan yang sudah berhenti tepat di pintu gerbang masuk Kampung Naga. Puji Tuhan, kami sampai.

Tak begitu sulit mencari tempat bermalam disana. Berawal dari perbincangan dengan pemilik warung bakso tempat kami makan, sang pemilik dengan sukarela menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat kami menginap, dengan catatan rumah itu tak memiliki kamar mandi. Untuk semua aktivitas mandi, kami lakukan di Masjid yang berada persis di sebelah rumah.

Sang pemilik rumah bernama Teh Aini, keluarganya begitu ramah. Benar-benar tipikal masyarakat Sunda yang bersahabat dengan siapapun sekalipun pendatang seperti kami. Ruang tamu rumahnya yang cukup luas dijadikan kamar yang sangat nyaman bagi kami ber-6 untuk tidur malam itu. Dan akhirnya, perjalanan sepanjang 105km hari itu kami akhiri di sebuah kasur empuk dan suasana hangat tuan rumah di tengah dinginnya udara malam dari lembah Kampung Naga, Kecamatan Selawu, Tasikmalaya…

Hari ke -3.

Hari itu (Selasa, 30/8/2011) tak jadi Lebaran. Masyarakat Kecamatan Selawu dan Masyarakat Kampung Naga mengikuti Lebaran versi pemerintah, yakni keesokan harinya. Rencana saya untuk bisa melihat langsung prosesi Lebaran masyarakat Kampung Naga tentu saja batal, karena rencana gowes kembali ke Jakarta harus dilakukan hari itu juga. Tapi bukan masalah, karena pagi harinya kami masih berkesempatan untuk menikmati keindahan dan keramahtamahan masyarakat Kampung Naga.

Pak Ayo, yang  merupakan warga asli Kampung Naga memandu kami mulai dari menuruni ratusan anak tangga menuju Kampung Naga hingga menerangkan secara detail semua elemen yang ada di Tanah Adat Kampung Naga. Kesimpulan kami, Kampung Naga tidak se-tertutup yang kami kira. Masyarakatnya sangat terbuka ke siapapun selama dapat mematuhi semua peraturan yang ada. Sekitar 2 jam dipandu Pak Ayo, kami pun berpamitan untuk kembali ke penginapan, dan berjanji satu waktu nanti kami akan segera kembali menikmati sajian alam khas Tanah Adat Kampung Naga.

“Kalau nanti kesini lagi silahkan bermalam di rumah saya, ngga ada nyamuk,” kata Pak Ayo.

Kami segera bersiap-siap. Hari itu diputuskan Adit, David, Aya, dan Meika kembali ke Jakarta menggunakan Bus. Sedangkan Saya dan Bimar akan melanjutkan gowes ke Jakarta. Sekitar jam 1 siang setelah makan kami berpisah di penginapan. Saya dan Bimar menuju Garut melalui jalur yang sama dengan yang kami lalui kemarin.

Mungkin karena hanya dilalui berdua, sekitar 1 jam kemudian kami sudah sampai kembali di Kota Garut. Yang lucu dari gowes hari itu adalah, kami kembali memacu sepeda di tengah kumandang takbir Lebaran yang mundur.

Sepanjang jalur Kota Garut hingga Nagreg, terlintas napak tilas ke arah jalur berlawanan yang kemarin kami lalui ber-6. Titik-titik untuk berpose, istirahat, mendorong satu sama lain, sampai tempat berhenti untuk sejenak mengoleskan obat bagi otot-otot kaki  yang tegang masih saya ingat. Sungguh sebuah kebanggaan dapat memacu sepeda bersama rekan seperjalanan yang hebat dan tak kenal kata mengeluh. Tapi saat itu saya harus mengucapkan, “selamat tidur di bus menuju Jakarta, teman.”

Kami mulai menjajaki jalur Lingkar Nagreg yang kalau tidak salah baru dibuka untuk pemudik pada tahun ini. Dari segi elevasi jalur ini tidak ada apa-apanya dibanding tanjakan Nagreg yang lama. Namun untuk cuaca panas dan anginnya, jangan ditanya. Sungguh menjadi kendala bagi kita yang hanya bertumpu pada seonggok besi rikik bernama sepeda. Beberapa polisi yang duduk di pos mudik hanya menggeleng melihat kami berdua ngos-ngosan di antara laju bus kota yang berjalan tersendat karena medan yang berat.

Target kami adalah bisa bermalam kembali di daerah Cimahi. Tepatnya di sekitaran Masjid Agung, mengingat keesokan harinya saya memang ingin menunaikan Shalat Ied di sana. Selepas Maghrib kami mulai memasuki Kota Cimahi. Gema takbir sudah ramai berkumandang diiringi kilatan cahaya kembang api di langit Bandung yang tentu saja menyambut datangnya Lebaran, bukan menyambut kedatangan Saya dan Bimar.

Akhirnya kami berdua berhenti di sebuah pom bensin 24 jam yang berada sekitar 200 meter dari Masjid Agung Cimahi. Izin ke petugas keamanan, kamipun diperbolehkan untuk menginap di mushala-nya yang nyaman dan hangat. Oiya, ditambah sebuah penawaran spesial untuk menitipkan sepatu kami berdua di pos jaga.

Hari itu cukup. 102km perjalanan berakhir di tengah alunan indah suara takbir dari balik bilik mushala. Zzzzzzzz…..

Hari ke-4.

Selesai Shalat Ied, kami segera beranjak dari tempat menginap dengan perut kosong. Tujuan hari itu adalah langsung ke Jakarta lewat jalur Cianjur-Puncak. Udara pagi sangat dingin menggigit, padahal sudah sekitar jam 7.30. Suasana jalan juga begitu sepi, ditambah tak ada satu pun warung nasi yang buka. Ya jelas saja, namanya juga Lebaran.

Sambil mengayuh, kami saling berceloteh tentang dengkul yang beku, yang sulit sekali digunakan untuk memacu lebih cepat sepeda kami agar paling tidak bisa segera sampai ke tempat sarapan terdekat. Akhirnya setelah melewati tanjakan Padalarang, kami mampir di jejeran warung yang tetap buka. Mie Goreng double dirasa cukup untuk menjadi pembuka menu hari itu.

Kami kembali mengayuh. Intip cyclometer, sudah lebih dari 400km jarak yang saya lalui selama 4 hari ini. Dan hari ini adalah hari terakhir denga rute yang cukup berat, yakni tanjakan Cianjur-Puncak Pas. Bahkan belum sampai sana, beratnya rute sudah harus saya rasakan bahkan ketika masih di sepanjang jalur datar Padalarang-Cianjur.

Terpaan angin begitu keras, yang membuat Saya dan Bimar harus bergantian berada di depan untuk memecahnya. Namun ternyata ada hikmahnya juga. Dengan laju yang pelan, saya dapat menikmati pemandangan masyarakat pinggiran yang merayakan lebaran. Sungguh sebuah kenikmatan ketika menyaksikan dari atas sepeda, sebuah esonansi lebaran lewat sentuhan ujung tangan para insan di pinggir jalan. Hal itu juga yang menjadi penyemangat saya untuk segera sampai kembali ke rumah.

Akhirnya sampai juga kami di Kota Cianjur. Kami mulai menapak pelan tanjakan. Hingga daerah tapal kuda jalanan masih sepi. Baru menjelang Cipanas, kemacetan mulai terlihat. Jujur, melewati jalur ini setelah tenaga digunakan untuk mengayuh lebih dari 400km menurut saya sama saja dengan bunuh diri. Tanjakan tanpa jeda disertai keadaan lalulintas yang ramai membuat kondisi fisik semakin cepat terkuras.

Butuh hampir 3 jam untuk dapat mencapai warung Mang Ade di Puncak Pas. Dan disana, telah menunggu seorang rekan (Asan) yang sengaja gowes dari Jakarta untuk sekedar ‘menyambut’ kedatangan saya dan Bimar. Sekitar 2 jam beristirahat, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Jakarta via Parung, Bogor. Selepas Magrib kami pun sampai di daerah Parung.

Di sebuah kios duren, Adit dan Aya yang sudah sampai Jakarta sehari sebelumnya juga telah menunggu kedatangan kami. Saat itu semua lelah hilang seketika, tergantikan dengan canda tawa atas cerita dari apa yang telah kami lalui bersama di hari-hari sebelumnya.

Akhirnya malam itu kami pun kembali mengayuh bersama, namun dengan tujuan yang berbeda, yakni ke rumah masing-masing. Hingga akhirnya ketika sampai di rumah, saya merasakan bahwa keringat, keluh kesah, sejuta pengalaman, dan beribu kebersamaan bersama para sejawat hebat, kini telah menjadi bagian dari ingatan perjalanan kali ini, “Setapak Panjang Lebaran”.

Sekian…

Notes: Terima kasih kepada KANNA Krim Kaki, yang telah memberikan dukungan materi selama perjalanan touring kali ini.

13 Responses to Setapak Panjang Lebaran

  1. Dhani Chagi says:

    nice foot bro…
    itu kaki mulus amat😀

  2. northeist says:

    Kaki siapa hayoo? :))

  3. jauhari mk says:

    keren … ceritanya juga sangat menarik

    salam kenal

    jauhari

  4. tetangga says:

    baguuussss iii ceritanya….keren euy…sepedahan sampe sana 10 jempol dah buat lo

  5. tetangga says:

    ya elah i gw ade i msh ga kenal jg ma gw ……

  6. wah..salut sama gan perjalannya! ada pesan sponsor tuh diakhir cerita..😀
    lain kali minta sponsorin produk tsb aja gan. hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: