Gunung Bunder via Tanjakan Koi

Tepat di tanjakan pembenihan ikan Koi beberapa teman berujar. “Mau liat ikan aja begini susahnya,” yang lain lagi nyeletuk, “Ada yang mau bayarin sepeda gua nggak?,” katanya. Tapi itu cuma candaan yang terburat sambil tertawa sembari megap-megap ambil nafas, yang mencerminkan bahwa jalur ini adalah jalur ‘sialan’. Setidaknya menurut mereka..

Sebelumnya saya cukup sering dengar tentang jalur ini melalui milis, blog, juga cerita langsung beberapa teman yang ternyata membuat saya cukup penasaran. Akhirnya Sabtu, 17 September 2011 lalu kesampean juga ngejajal jalur ini dengan di-guide temen-teman Gowel Bogor.  Kumpul di Lippo Bogor, rombongan yang ikut berjumlah 15 orang, ditambah 2 orang yang menunggu di tengah perjalanan. Dari Lippo rombongan lewat BNR (Bogor Nirwana Residence) lalu tembus di jalan raya Ciapus mendekati pertigaan Curug Nangka. Sebelumnya untuk mencapai tempat ini saya selalu lewat jalur utama, jalan raya Ciapus. Memang, lewat BNR kali ini jalurnya lebih sepi, tapi terbilang flat. Jujur saya masih lebih suka lewat jalur utama, meski crowded, tanjakannya tetap lebih berasa dan menantang.

Dari pertigaan Curug Nangka melewati jalur rolling turun naik Curug Luhur. Setelah satu tanjakan yang cukup ‘haram jadah’ biasanya saya lurus terus lewat jalur utama, tapi kali ini berhubung pengen ngerasain tanjakan Koi, kita belok kiri melewati jalur berbatu disusul tanjakan beton yang cukup ‘ngehe’. Mulai dari situ jalur berkelok naik turun, melewati setapak sempit perkampungan yang berbatu, juga pinggiran sawah dan ladang warga. Ada beberapa titik yang tidak bisa digowes, yakni menjelang dan sesudah sebuah jembatan kayu dengan sungai di bawahnya. Karakter tanjakan sampai menjelang tempat pembenihan ikan koi adalah tanjakan-tanjakan beton yang pendek, namun cukup curam. Jalurnya cukup lebar,namun sebagian besar dipisah menjadi dua sisi beton kasar, dengan rumput dan tanah di tengah-tengahnya.

Setelah tempat pembenihan koi, dari situlah jalurnya menjadi lebih berat dan menguras tenaga.  Tiap sisi jalur beton hanya lebar sekitar 50cm. Dengan curamnya elevasi, terpeleset sedikit ke jalur batu atau rumput, sudah dipastikan kaki kita akan menapak tanah. Selanjutnya, ya silahkan. Kebanyakan teman-teman, sih memutuskan untuk TTB. Dari situ, kembali lagi memasuki jalur perkampungan dengan kontur tanah dan berbatu. Tanjakan tidak lagi begitu berat, bisa terbilang tergolong landai hingga kita sampai di ujung jalur akses masuk ke Gunung Bunder melalui jalan samping, bukan gerbang utama. Disitu adalah lokasi finish rombongan yang berupa jejeran warung khas wahana wisata pegunungan. Hidangan nasi goreng, Indomie, dan teh manis hangat disitu sudah sangat cukup untuk menggantikan rasa lelah.

Secara keseluruhan, total jarak dari Lippo ke Gunung Bunder via Tanjakan Koi hampir sekitar 30km. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang ada juga cukup membantu kita untuk menghilangkan rasa muak akan tanjakan-tanjakan yang tersaji. Cukup recommended pokoknya.

Yuk, mengulang lagi.

5 Responses to Gunung Bunder via Tanjakan Koi

  1. Geza says:

    yuk, diulang lagi dong om….🙂

  2. sekar says:

    gak suka liat fotonya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: