Terhenti di Gunung Putri. (Sebuah Catatan Pendakian)

Lirik jam, sudah hampir jam 12 malam. Artinya sudah lebih dari 24 jam kami berjalan naik turun gunung. Dan sekarang sudah hampir tengah malam, dalam perjalanan turun ini, bisa dibilang kami tengah tersesat di kaki Gunung Putri dengan logistik menipis dan minim sinyal handphone. Ada dua pilihan, kembali ke persimpangan jalan di atas dengan sisa tenaga yang sekarat, atau tidur di sini menunggu pagi di tengah dinginnya angin lembah yang terbuka, sambil berharap ada warga yang lewat? …

Memulai Pendakian

Meski saya lebih suka wisata pegunungan dibanding bahari, tapi yang namanya mendaki gunung, dari dulu saya tidak begitu suka. Main di pegunungan lebih sering saya lakoni dengan sepeda dibanding mendaki (hiking). Tapi Sabtu lalu (1/10/2011) akhirnya saya pun mencoba mendaki Gunung Gede bersama 8 rekan lainnya yakni, Sabat sebagai ‘captain’, Adit, David, Aya, Thya, Meika, Epoy, dan Lita. Sabtu dinihari, kami ber-sembilan memulai pendakian via Cibodas. Tidak hanya akan mendaki dalam gelap, tetapi status kami saat itupun bisa dibilang sebagai pendaki gelap. Bukannya tidak mendaftar, melainkan kami sudah mendaftar tapi tidak terdaftar. Bingung kan? Tapi ya sudah, hal ini jangan dibahas.

Dari Cibodas, kami dipandu 3 orang warga hingga jalur pendakian yang aman. Saat itu jam menunjukan sekitar pukul 02.00 dinihari. Kami mulai mendaki dengan masing-masing orang memegang senter untuk penerangan. Berhubung hampir semua di antara kami adalah newbie, maka pendakian dilakukan beriringan tanpa terpisah. Sudah banyak kisah yang saya dengar tentang Gn. Gede mulai dari keindahannya, hingga kisah-kisah mistis yang ada di dalamnya. Yang saya harap dari pendakian kali ini tentu saja yang pertama, untuk yang kedua sih amit-amit, jangan sampe! Ternyata memang benar. Meski pandangan terbatas oleh kepekatan gelap gulita, saya tetap bisa merasakan keindahan Gn.Gede melalui indera yang lain. Hidung saya mencium aroma tanah pegunungan yang tercampur dengan wanginya dedaunan yang rimbun. Telinga saya disajikan ‘musik’ alami berupa suara binatang malam hutan yang dipadu dengan suara gemericik air yang mengalir. Sungguh sempurna. Begitu terus hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidur sejenak di sebuah pos bayangan sekitar jam 4 pagi.

Jam 6 kami kembali bergerak. Setelah melewati air terjun belerang, terjadi insiden serangan lebah hutan. Korban pertama yang tersengat adalah Lita, lalu menyusul kemudian Aya, Meika, dan Adit. Sisanya termasuk saya beruntung dapat lolos dari serangan tersebut. Syukurnya, teman-teman yang tersengat tidak sampai mengalami luka serius. Korban serangan lebah ternyata bukan hanya dari rombongan kami. Di Pos Kandang Batu, seorang pendaki yang telah sampai duluan terlihat tengah menggigil kesakitan karena jari-jari tangannya bengkak cukup besar akibat tersengat. Kami pun bergabung bersama pendaki tersebut dan teman-temannya untuk memberi pertolongan ala kadarnya, sambil menunggu tim medis mereka datang.

Dari situ, perjalanan dilanjutkan melalui titik-titik yang menjadi patokan bahwa perjalanan sudah semakin dekat, termasuk Camp Kandang Badak. Namun di Kandang Badak kami tidak terlalu lama, dan langsung menuju patokan berikutnya, yakni Tanjakan Setan.  Saya sering mendengar tentang Tanjakan Setan , dan ternyata memang benar, cukup curam. Untuk pendaki baru, tebing yang nyaris vertikal ini tentu bukan perkara mudah untuk dilewati. Makanya, butuh waktu cukup lama bagi kami untuk melewati tanjakan itu hingga akhirnya semua berhasil lulus, istirahat, lalu berfoto  dengan background Gunung Pangrango yang begitu ‘angkuh’ berdiri.

Setelah melewati sisa jalur pendakian yang berat sekitar pukul 1 siang akhirnya kami sampai di puncak Gunung Gede. Rerimbunan pohon hutan berganti dengan pemandangan kawah belerang yang luas. Di setiap sisi, bebatuan tebing gunung berdiri begitu ‘sombong’. Sungguh, disajikan pemandangan tersebut, saya merasa bahwa kita sebagai manusia begitu kecil di hadapan semesta. Dinginnya angin cukup membuat kami terbuai, hingga akhirnya setelah melahap nasi uduk yang sangat sederhana, kami semua tertidur hanya beralaskan tanah dan bebatuan gunung, berselimutkan sisa-sisa kabut belerang yang berhasil menjalar ke atas…

Betapa Kesabaran Teruji…

Cukup 2 jam kami tertidur. Sekitar jam 3 sore kami memutuskan untuk turun melalui jalur Gn.Putri melalui padang rumput luas Surya Kencana. Di Sur-Ken, kami sempatkan untuk istirahat sejenak sembari mengabadikan moment, baru setelah itu melanjutkan perjalanan menuju ‘gerbang masuk’ Gunung Puteri. Memasuki hutan keadaan sudah cukup gelap karena memang waktu saat itu sudah hampir masuk waktu Magrib. Berbeda dengan jalur naik via Cibodas, jalur Gunung Putri merupakan jalur tanah dan akar dengan turunan-turunan yang terjal. Dengan tenaga sisa yang ada, jalur seperti itu justru sangat menguras tenaga, karena saat menapak, kaki diharuskan menanggung beban tubuh yang berat.

Hari semakin gelap gulita. Lagi-lagi kami kembali mengandalkan lampu senter sebagai cahaya penunjuk jalan. Di tengah hutan Gunung Putri yang sangat rimbun, bahkan cahaya bulan pun seakan tidak diizinkan untuk menyelinap masuk di antara dedaunan. Melihat ke atas, yang tampak hanya batang-batang pohon yang tinggi menjulang. Melihat ke depan, semua gelap, tanpa kami tahu berapa kilometer lagi hutan ini akan berujung. Tapi tak ada pilihan lain. Satu-satunya cara melewati kegelapan ini adalah dengan terus melangkah ke depan.

Di sinilah kesabaran kami harus diuji. Dengan tenaga yang sudah hampir habis, kami harus tetap saling menyemangati satu sama lain. Bukan hanya itu, hal berbau mitos saat berada di hutan pegunungan pun sejenak harus kita percayai, yakni  bagaimana kita saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak bengong, bersiul, mengarahkan sinar lampu ke atas, dan lain-lain. Saya sendiri percaya, keberadaan kita di tengah hutan belantara diibaratkan kita sedang menjadi tamu. Tamu siapa? Entahlah. Yang pasti, saat bertamu tentu ada etikanya. Dan hal-hal di atas yang saya sebutkan tadi, anggaplah itu sebagai etika.

Langkah demi langkah, kami merasa semakin dekat dengan ‘gerbang’ keluar jalur Gunung Putri. Setiap bertemu dengan rombongan yang akan naik, sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. Paling tidak saat itu kami tidak sendiri, dan tentu saja tidak tersesat. Sempat juga kami bertemu dengan 3 orang pendaki yang ternyata adalah penjual nasi uduk di Surya Kencana. Iseng saya bertanya butuh waktu berapa lama mereka untuk sampai ke Sur-Ken? Jawaban mereka membuat saya tertegun, “Hanya 2-3 jam,”.

Setelah itu kami pun bertemu dengan seorang pendaki yang seketika kembali membakar semangat. Dari mulutnya terujar bahwa pos terakhir berada tidak jauh lagi. Dari petunjuknya, kami berhasil melewati beberapa pos yang dimaksud sebelum pos pemeriksaan terakhir. Tapi apakah selesai sampai di situ? Ternyata belum. Selepas bangunan tua bekas kamar mandi, kami mengambil jalur yang salah. Yang ada di pikiran kami saat itu adalah beberapa saat lagi kami akan menjumpai pemukiman penduduk. Tapi ternyata jalur yang kami lewati kembali jalur hutan menurun, gelap, terjal, hingga akhirnya kami merasa benar-benar telah berada di titik terendah Gunung Putri. Tapi kami sadar saat itu kami telah mengambil jalur yang salah.

Akhirnya kami berhenti di sebuah tempat terbuka yang menurun. Saat itu sudah tepat tengah malam. Yang ada di pikiran kami semua mungkin sama, “Kami Tersesat,”. Untungnya, di tengah kondisi fisik yang bisa dikatakan telah habis, emosi masing-masing dari kami masih bisa menyikapi dengan tenang. Sinyal HP yang sesekali ada menjadi harapan tersendiri. Kami mengirimkan peta hasil tracking Endomondo ke Novem yang saat itu menghubungi kami, untuk selanjutnya di trace agar kami bisa tahu posisi saat itu. Oiya, ngomong-ngomong tentang Novem, akhirnya kami tahu bahwa di saat yang sama ternyata teman-teman di Jakarta juga menanti kabar kami. Bahkan Antara Novem, Bude sekar, Bimar, Asan, dan lain-lainnya saling bertanya kabar kami sepanjang malam itu.

Usaha trace dari maping Endomondo sepertinya tidak membuahkan hasil. Beberapa pilihan pun kami buat, yakni bermalam di situ menunggu pagi di tengah dinginnya angin lembah yang terbuka sambil berharap ada warga yang lewat, atau kembali lagi ke atas menuju persimpangan terakhir tempat kami mengambil jalur yang salah? Itupun belum menjamin kami akan tidak tersesat. Akhirnya, setelah mengkonfirmasi ke Novem kami pun sepakat mengambil pilihan yang kedua dengan segala risikonya.

Saat tengah bersiap untuk beranjak, dari arah belakang terdengar suara pria dengan sorotan lampu sangat terang yang dibawanya. Puji Tuhan! Betapa senangnya kami saat itu. Kami menyangka pria itu adalah warga yang lewat, namun ternyata di belakangnya masih terdapat banyak orang yang mengikuti. Dan akhirnya kami memastikan bahwa mereka adalah rombongan yang sama dengan kami, yang turun melalui jalur Gunung Putri. Mereka mengatakan bahwa jalur yang sudah kami lewati sebenarnya bukan jalur yang salah, melainkan jalur alternatif yang tidak melewati pos terakhir. Tapi tetap saja, karena kami tidak tahu maka tadi kami memutuskan untuk berhenti, takut nantinya malah tersesat lebih jauh.

Kami berjalan mengikuti iring-iringan mereka hingga sampai di sebuah pemukiman. Istirahat sejenak, lalu turun ke sebuah warung. Di situ kami ditawarkan untuk menyewa angkot menuju Cibodas tempat kami memarkir mobil. Akhirnya, sekitar pukul 5 pagi kami telah sampai lagi di Cibodas, dan tak lama langsung beranjak dari situ menuju Jakarta hingga akhirnya kembali lagi ke rumah masing-masing.

Sungguh, perjalanan kali ini telah menorehkan banyak pengalaman yang tersirat dalam benak kami. Betapa alam telah mengajarkan kami arti sebuah kesabaran, kebersamaan, kekuatan, dan kemauan yang dapat mengalahkan rasa lelah dan putus asa selama perjalanan. Dan yang pasti, seberapapun banyaknya rombongan kita, seberapapun kuatnya fisik kita, tetap saja di hadapan alam, kita menjadi begitu kecil dan begitu tergantung kepadanya untuk dapat membaca berbagai petunjuk yang tersirat.

Terima kasih untuk semua rekan seperjalanan, sampai jumpa di perjalanan berikutnya. J

12 Responses to Terhenti di Gunung Putri. (Sebuah Catatan Pendakian)

  1. sabatsantoso says:

    Uyeeee….c3mUuuuN6uuudDDD kakak😀

  2. jerry says:

    Mantap bos… emang kita manusia dibangkn alam semesta sangat kecil.. perjalanan seperti yg kalian lalui kemaren memang bisa jadi pengingat… untung nya waktu gw pertama kali naek gunung gw bersama orang2 yg menurut gw cukup hebat.. mereka sabar banget ngedampingin newbie2 kyk gw.. kapan2 kita ulang jal trip ke gunung gede.. kalo bisa ngeamp kta disana.. denger cerita2 kalian jai pengen lagi euy kesana…

  3. indra says:

    wah,,sy beserta rombongan jg bru saja selesai pendakian minggu sore,, saat itu jg sy seorang newbie, alhamdulillah kami bisa tiba sesuai tujuan dan harapan yang baik..semoga semua yg kita lakukan ini bermanfaat bagi kita semua..(sy jg bingung tentang penjual nasi uduk,,jam 2 pagi hr minggu mereka sudah tiba di sur-ken untuk menawarkan barang dagangan mereka,, sungguh dramatis)

  4. sekar says:

    mau tau seberapa sehatnya kondisi jantung kita?
    nyalakan hape selama 24 jam lebih
    biarkan semua fungsi getar dan suara menyala
    pelototin layarnya
    jempol kanan dan kiri terus memencet huruf
    sambil bayangin gunung, hutan, malam,
    dan 9 gnome yg kehabisan batere dan jauh dari sinyal

  5. Dhani Chagi says:

    Wah baru baca,,,
    Seru bacanya, dan merinding pas tau ternyata kalian sempat nyasar.
    Alhamdulillah semua selamat sampe rumah.

    Naik gunungnya sambil bawa sepeda aja om😀
    Jadi inget Om Abby gowes BMX di Surya Kencana dan Om Iwan Sunter

  6. Bila pemula ngambil Rute
    (naik)
    cibodas-gede
    (turun)
    gede-surya’kencana-putri
    rute itu makan stamina
    pendaki ,
    buat pemula mendingan
    melalui Rute
    (naik)
    putri-s’k-p.gede
    (turun)
    p.gede-k.badak-ps.ciberem
    -cibodas

    rute itu d’jamin enak buat
    para pemula!!

  7. Rafiq says:

    april 2012 nanti adalah perjalanan perdana saya ke gn. gede, semoga lacar dan terima kasih atas muatan blog ini yang informatif. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: