Nanjak, dan menikmati pemandian Gunung Pancar

Untuk kesekian kali, Sabtu kemarin (22/10/2011) saya bersama Lita dan Iyunk, kembali menikmati sajian khas tanjakan Gunung Pancar berupa sejuknya udara pegunungan di tengah hutan pinus yang luas. Bukan cuma itu, untuk pertama kalinya kami juga singgah ke tempat pemandian air panas Gunung Pancar yang cukup tersohor.

Perjalanan dimulai dari Lebak Bulus, Jakarta, sekitar jam 06.00 WIB melalui jalur Jalan Raya Bogor. Di tengah jalan bertemu dengan seorang goweser yang mau nanjak ke Bojong Koneng. Pagi itu rencananya kami ingin lewat jalur biasa melewati fly over Pasar Cibinong, lalu belok di jalan masuk Sirkuit Sentul, dan bablas lewat Babakan Madang. Tapi sebelum Pasar Cibinong, kemacetan sudah terlihat parah, bahkan di atas fly over pun kendaraan sudah stuck, berhenti.

Akhirnya kami belok kiri lewat jalan kecil di depan Carefour Cibinong, tembus pasar, lalu oleh kawan yang baru kenal ini (maaf, saya lupa namanya) kami diajak melewati jalan perkampungan di pinggir jalan tol. Saya baru pertama kali melewati jalur ini. Jalurnya menyenangkan, sepi dan adem. Hanya sedikit kendalanya adalah banyak banget polisi tidur. Ujung dari jalan ini adalah pom bensin di jalan Babakan Madang. Artinya dari situ sudah ngga jauh lagi menuju Petronas di Sentul City tempat saya janjian dengan Iyunk. Tapi sekitar jam 08.30, Iyunk ngasih kabar kalau dia masih di jalan, di daerah Cibinong. Akhirnya disepakati kami akan ketemu di atas saja.

Jalur pinggiran jalan tol yang adem.


Nanjak, dan Nikmatnya Air Panas Pegunungan

Sepanjang perjalanan nanjak jalur cukup ramai oleh pesepeda dari rombongan lain. Ada yang saya jumpai tengah beristirahat, foto-foto, bahkan ada juga yang sedang terengah-engah sambil transaksi ojek dengan warga sekitar. Setelah deal harga, sepeda sekaligus si pengayuhnya segera diboyong sampai ke atas. Ada sekitar 3 pesepeda yang saya lihat menggunakan jasa ojek. Tapi ngga masalah juga, toh kemampuan masing-masing orang ngga bisa dipaksakan, dan yang penting happy aja selama gowes.

Sekitar jam 10.00 saya sampai di lokasi finish puncak tanjakan Gunung Pancar, disusul Lita, lalu Iyunk sekitar 40 menit setelahnya. Lokasi finish juga sudah sedikit berubah. Tempat parkir mobil Sebex Bike Park sudah ter-paving block rapih. Warung-warung juga sudah menjadi semi permanen dengan bale-bale yang tetap nyaman untuk beristirahat. Istirahat sejenak dan makan, lalu kami pun langsung ke lokasi pemandian air panas.

Lita

Iyunk.

Untuk masuk, kita harus membayar tiket sebesar 10ribu rupiah di loket yang terletak di gerbang utama pemandian. Lalu dari situ kita harus turun sekitar 200 meter menuju kolam. Kolam pemandiannya sendiri ada beberapa jenis. Ada kolam untuk paket keluarga berkapasitas 5 orang dengan harga 100ribu/jam. Ada juga yang perkamar kapasitas 2 orang dengan harga 10ribu/jam. Sedangkan untuk kolam umum kita ngga perlu bayar apa-apa lagi, cukup uang masuk sebesar 10ribu di awal tadi. Nah, saya dan teman-teman sih cukup di kolam umum ini saja.

Kolam umum ini terpisah menjadi dua, untuk laki-laki dan untuk wanita. Luas masing-masing kolam sih mungkin sekitar 6×6 meter saja, tapi cukup nyaman kalau keadaan tidak begitu ramai pengunjung. Satu hal yang harus diperhatikan adalah, JANGAN SEKALI-KALI LANGSUNG NYEMPLUNG, SESAMPAINYA KITA DI KOLAM.

Kolam umum pemandian Gunung Pancar. Ngga begitu luas, tapi cukup nyaman kalau kondisi sepi.

Beneran deh, air di pemandian Gunung Pancar ini panas banget. Butuh adaptasi cukup lama agar tubuh kita dapat menyesuaikan dengan panasnya air. Ditambah, waktu saya berendam kemarin yakni pas banget tengah hari, di tengah cuaca yang cukup terik. Mungkin kalau pagi hari atau saat kondisi hujan tidak perlu waktu yang lama untuk kita bisa menyesuaikan diri.

Tapi untuk orang-orang yang sudah terbiasa datang kesana sepertinya nggak begitu jadi kendala. Di dekat saya ada pria tua yang akrab dipanggil Si Abah. Saat baru datang tanpa basa-basi dia langsung nyebur, menyelam, dan berenang di dalam kolam. Gila! Pikir saya saat itu. Dan jujur saja, selama saya disitu kemarin, saya cuma menceburkan kaki saya sebatas dengkul. Lumayan untuk menghilangkan pegal setelah nanjak.

Si Abah, baru datang tanpa basa-basi langsung menyelam. Menurutnya, masalah penglihatan yang dideritanya bisa sembuh karena sering berendam di Pemandian ini.

Obrolan warung kopi dengan Si Abah. Mulai dari masalah penyakit, sampai masalah Pilkada Banten.

Narsis dulu, walaupun cuma rendam kaki sebatas lutut.

Tapi over all, lokasi pemandian ini cukup menyenangkan dan recommended, terutama kalau ditempuh dengan bersepeda tentunya.

Kesimpulannya, next time wajib ke sini lagi.

3 Responses to Nanjak, dan menikmati pemandian Gunung Pancar

  1. dhanichagi says:

    kirain mau berendem di private pool.
    uhuk uhuk…

  2. rbfin says:

    iiiiiiiiiiiiiiiiiii eanak nya mandii……………….!!!!!!πŸ™‚
    ngga ngajak” eh…..πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: