Cigentis; Curug dan Tanjakan Eksotis.

…Ternyata benar, baru beberapa puluh meter memasuki tanjakan berbatu, saya sudah dipaksa mengeluarkan seluruh tenaga ekstra. Bukan cuma tenaga, otak pun dituntut untuk bekerja. Ini bukan cuma tanjakan bebatuan tajam, melainkan juga bercampur dengan tanah dan beton yang sedikit basah. Itu yang membuat berat…

Setelah dua minggu sebelumnya Bimar menjajal sendirian, akhirnya kemarin (Minggu, 6/11/2011) dia mengajak Saya dan Adit, yang penasaran dengan ceritanya tentang ‘keelokan’ jalur dan tanjakan menuju Curug Cigentis.

Bagi yang belum tau, Curug Cigentis secara administratif terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Pangkalan, Karawang. Namun menurut wilayah pengelolaan hutan, curug ini termasuk RPH Cigunungsari BKPH Purwakarta. Makanya di tiket masuk, yang tertulis adalah wilayah Purwakarta. Itu juga yang sempat jadi pertanyaan kami bertiga kemarin.

Kami start dari Lebak Bulus sekitar pukul 5.30 pagi. Rute yang dilewati adalah jalur Jalan Raya Bogor, Cibubur, lalu terus ke arah Cileungsi, Jonggol, hingga sampai di perempatan Cariu. Sebelumnya sempat berhenti cukup lama untuk mengganti ban dalam belakang sepeda saya yang terkena paku di wilayah Cibubur. Setelah itu perjalanan dilanjutkan tanpa kendala.

Singkat kata, sesampainya di perempatan Cariu yang kalau belok kanan adalah jalan menuju Bandung via tanjakan Cariu, maka untuk menuju Curug Cigentis kita belok ke arah kiri, untuk selanjutnya masuk ke arah Kecamatan Pangkalan, Karawang.

Meski ada beberapa titik jalan rusak, jalur didominasi jalan aspal mulus berkelok yang berada di tengah area persawahan yang luas. Tempatnya terbuka, letak rumah warga pun cukup berjauhan satu sama lainnya. Kalau pagi, udara sejuk khas pedesaan sudah jadi jaminan untuk kita. Tapi menjelang siang, ya silahkan menikmati santapan sinar matahari sampai kenyang.

Entah telah berapa km jarak yang kami tempuh dari perempatan Cariu , hingga akhirnya kami bertiga sampai di sebuah portal yang menjadi gerbang perbatasan antara Cariu, Kabupaten Bogor dan Pangkalan, Kabupaten DT II Karawang. Dari situ jalur masih didominasi jalan datar. Hanya saja lebih merupakan daerah pemukiman yang lebih padat padat.

Jalan di Perbatasan Kecamatan Cariu dan Kecamatan Pangkalan

Bergaya dulu di tengah sawah

Gerbang Perbatasan

Kami terus mengayuh. Hingga mentok di sebuah pertigaan cukup besar kami berbelok ke arah kanan. Sebagai catatan, musti cukup hati-hati di daerah sini. Banyak warga lokal yang mengemudikan motor dengan kecepatan yang nggak tanggung-tanggung. Ibarat pembalap kampung yang haus akan arena resmi sepertinya.

Tak lama, kami telah sampai di Pasar Loji. Pasarnya kecil, hanya saja sangat ramai. Bagi yang mau me-reffil bidon atau membeli perbekalan, ada Indomart di sisi kanan jalan yang berjarak beberapa meter dari perempatan yang kalau ke arah kiri adalah jalan menuju Purwakarta, juga Karawang Kota yang mungkin masih sangat jauh dari sana.

Di perempatan itu, kami belok ke kanan. Di sini suasana sudah berbeda dari sebelumnya. Jalanan lebih sempit dengan pemukiman dan sungai kecil di sisi kiri jalan, dan area sawah di sisi kanan dengan pemandangan deretan pegunungan yang kokoh berdiri.

Sesampainya di gerbang Desa Mekar Buana yang juga merupakan loket masuk pertama menuju Curug Cigentis, kita diharuskan membayar Rp 2500, tapi si penjaga loket kemarin malah meminta Rp 5000 saja untuk harga masuk kami bertiga.

Pasar Loji

Gerbang masuk Kawasan Wisata Desa Mekar Buana

Desa Mekar Buana ini desa yang padat pemukiman. Mungkin karena merupakan daerah wisata, maka cukup banyak warung-warung yang berjejer. Di sini jalur sudah menanjak sedikit demi sedikit, ada juga tanjakan yang cukup curam yang akhirnya mengantarkan kami bertiga ke lokasi parkir pertama kendaraan yang akan menuju Curug Cigentis.

Lokasi tersebut sebenarnya merupakan tempat parkir para pengunjung Waterboom yang berada disitu. Namun bisa juga digunakan untuk parkir kendaraan para pengunjung yang akan ke Curug Cigentis, yang khawatir kalau-kalau kendaraan mereka nggak akan kuat menanjak. Sebagai info, di sepanjang jalur naik ke Curug Cigentis nanti memang berjajar lokasi parkir.

Kami berhenti disitu untuk makan. Dari warung, terlihat jelas tanjakan panjang menuju curug. Lalu lalang pengunjung yang menuju ke atas masih sepi, mungkin karena memang masih cukup pagi. Kebanyakan dari mereka menggunakan sepeda motor menuju curug, meski ada beberapa yang menggunakan mobil.

Selesai makan, ‘prosesi’ nanjak dimulai. Tanjakan aspal menjadi menu pertama. Elevasi cukup curam, bahkan menurut saya memang curam. Di sisi kanan adalah tebing dan pepohonan, sedangkan di sisi kiri, kita dapat melihat lokasi Waterboom dari ketinggian.

Bimar berada di depan untuk meng-guide saya dan Adit. Di sebuah lokasi, ada plang pengumuman bertuliskan “Tanjakan Berbahaya”. Dan memang benar, dari situ terlihat bahwa jauh di depan sana ada jalur aspal dengan elevasi kemiringan yang ’menggoda‘ untuk segera dijamah. Oiya, di tanjakan ini saya melihat sebuah Avanza yang memilih untuk berhenti di tengah tanjakan, lalu balik arah karena mungkin merasa konturnya terlalu berat untuk didaki.

Tanjakan Berbahaya

Di sisi kiri terdapat banyak saung dan warung yang cocok untuk beristirahat bila kita lelah. Namun kami bertiga memutuskan untuk terus nanjak hingga puncak nanti, karena perbekalan air memang dirasa masih cukup.

Perlahan, di tengah konsentrasi saya melahap tanjakan, Bimar memberitahu dengan setengah berteriak bahwa sebentar lagi akan memasuki tanjakan offroad berbatu. Dua minggu lalu saya mendengar tentang tanjakan ini dari dia, dan menurutnya memang cukup berat untuk ditaklukan.

Ternyata benar, baru beberapa puluh meter memasuki tanjakan berbatu, saya sudah dipaksa mengeluarkan seluruh tenaga ekstra. Bukan cuma tenaga, otak pun dituntut untuk bekerja. Sungguh, ini bukan cuma tanjakan bebatuan tajam, melainkan juga bercampur dengan tanah dan beton yang sedikit basah. Itu yang membuat berat.

Salah sedikit, tinggal pilih, mau ban belakang kita yang slip atau ban depan kita yang terangkat? Disinilah kemampuan kita diuji. Kombinasi gear juga menentukan. Saya sendiri lebih mengandalkan power dengan bermain di kombinasi crank 32t dan sprocket 27t, untuk mencegah ban belakang slip.

Tanjakan Bebatuan

Tanjakan tanah merah yang licin

Selain kesulitan tadi, kita juga harus berbagi jalan dengan pengunjung lain yang kebanyakan berjalan kaki ke atas, meski banyak juga yang memaksa untuk membawa sepeda motornya. Tidak sedikit saya melihat pengendara yang hampir terjungkal bersama motornya karena medan yang berat.

Beberapa kali saya pun berhenti. Baik karena hampir terjatuh akibat ban belakang slip atau karena memang memilih untuk menunggu para pejalan kaki di depan saya agar posisinya lebih jauh lagi ke depan. Menunggu aman dan nyaman, pikir saya.

Berbagi jalan dengan pengunjung lain

Bimar sudah ngga terlihat. Saya dan Adit terus memacu sepeda melawan gravitasi. Dan akhirnya, terdengar suara Bimar memanggil dari arah depan, dan ternyata saya telah sampai. Kami berdua beristirahat di sebuah warung sambil menunggu Adit yang juga sampai tak lama kemudian. Melihat cyclometer, ternyata jarak tempuh dari warung tempat kami makan di bawah tadi adalah 4km. Lumayan.

Setelah itu kami menuju loket pembayaran untuk masuk ke lokasi air terjun. Harga tiket masuknya adalah Rp 8000/orang. Dari loket menuju air terjun, sepeda sudah tidak bisa lagi dinaiki karena jalurnya memang merupakan anak tangga bebatuan yang menuju ke atas. Tak ada pilihan, sepedapun dipanggul. Mungkin jaraknya sekitar 500-700 meter untuk sampai ke lokasi air terjun.

Memanggul sepeda ke lokasi air terjun

Lokasi pemandian dan air terjun Curug Cigentis sendiri sebenarnya tidak cukup besar. Hanya saja keindahan pancuran air yang jatuh di tengah lembah Kaki Gunung Sanggabuana benar-benar menyihir kita yang berhari-hari terbiasa menghabiskan waktu di tengah rutinitas dan kepenatan kota.

Maka tanpa pikir panjang, kami bertiga segera nyemplung menikmati air yang dingin dan amat menyegarkan tubuh yang sudah cukup lelah. Dan sekitar satu jam kemudian, kami memutuskan untuk selesai dan kembali bersiap untuk mengayuh pulang ke Jakarta.

Adit dan Bimar di lokasi air terjun

Menikmati segarnya Air Curug Cigentis

Kesimpulan: Total jarak tempuh dari Lebak Bulus menuju Curug Cigentis adalah sekitar 80km. Artinya, untuk mengayuh PP maka akan menempuh jarak 160km. Kenikmatan perjalanan kali ini juga bukan terletak di Curug Cigentisnya saja, melainkan juga saat mengayuh memasuki Kecamatan Pangkalan terutama, kita seakan berada dalam sisi lain sebuah kehidupan, yakni kehidupan khas pedesaan. Dan mengayuh di antara itu bagi saya adalah sebuah kenikmatan yang tak ternilai dari sebuah perjalanan. Intinya, mari mengulang…

15 Responses to Cigentis; Curug dan Tanjakan Eksotis.

  1. dapit says:

    yuk ulangggg

  2. bang jabrik metik jamblang
    tarik mang

  3. bdwiagus says:

    dari fotonya kok gak keliatan nanjak ya?huahahaha
    mantap bro….

  4. jangan lupa saya diajak ya kakaaak😀

  5. cak ipul says:

    klo ksesitu enak nginep om…..mantabs..,

  6. Dhani Chagi says:

    160 km?? Gilingan…

  7. Iyunk says:

    tes…tes….🙂

  8. sekar says:

    eh kok foto angkot yg ngangkut kalian, gak ada?

  9. waras says:

    klo lwt bekasi cikarang via bojong mangu jga bsa y mas bro……?

  10. urang_bk_she says:

    dri dlu hingga skrng jln ke pangkalan msh bnyk yg rusak,kpn2 camping di cigentis mas bro…..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: