Mengulang Perjalanan (Jakarta-Bandung #2)

…Fenomena dari sebuah kehidupan di banyak tempat, juga kebebasan, itulah yang saya cari. Dan mendapatkan itu semua dari atas sepeda membuat saya lupa akan beratnya rasa lelah dalam setiap perjalanan. Benar-benar menyenangkan…

Akhir bulan lalu mendadak terpikir untuk kembali melakukan perjalanan melalui jalur klasik nan eksotis, Jakarta–Bandung via Cariu. Tak ada misi, selain waktu kosong yang harus diisi. Maka jadilah. Terencana, touring dilakukan pada Sabtu 3 Maret 2012. Yak, sendirian saja tentunya. Perjalanan ini tanpa pannier karena memang tak ada lubang baut untuk rak di seat stay Missile X Nine yang saya pakai. Toh ini hanya one day trip, semua barang bawaan cukup masuk ke dalam 3 kantong kecil di belakang jersey, tak jadi masalah.

Start dimulai pukul 05.15 pagi. Malam sebelumnya saya berharap hari itu tak akan turun hujan. Meski akhirnya terkabul Tuhan, langit pagi sudah pekat, ditambah angin kencang begitu menusuk tubuh yang baru terisi semangkuk bubur kacang. Saya tak paham tentang teori angin. Yang saya tahu semakin terbuka suatu wilayah, semakin kencang angin bertiup. Tapi di sepanjang jalur Lb.Bulus – Cilandak yang notabene merupakan rentetan gedung angkuh, angin sudah jadi cobaan untuk mengayuh. Alhasil, kombinasi gear ringan menjadi pilihan, daripada melawan alam.

Memasuki Jalan Raya Bogor, di beberapa titik sisi jalan loper koran sibuk berebut dagangan di lapak sang juragan. Posisi mereka agak melipir menepi di bawah kanopi pertokoan, karena gerimis ternyata mulai turun. Setetes, dua tetes, hingga akhirnya bertetes-tetes air mulai menerpa wajah saya. Agak panik juga, masa belum sampai Cibubur saya sudah harus berteduh? Saya memang bawa jas hujan, tapi masih terlalu dini untuk tersiksa mengayuh dengan kondisi otot kaki yang basah di tengah cuaca dingin. Kalaupun harus berhenti, paling tidak posisi saya sudah lebih jauh, maka kayuhan pun saya percepat.

Syukurlah, memasuki Cikeas langit semakin terang. Hembusan angin dingin berubah hangat menerpa tubuh yang terbalut jersey ketat. Jauh di depan sana matahari berdiri gagah dengan sinar keemasan. Di jalan lebar dua arah itu kondisi jalan masih sepi. Lirik jam, sudah sekitar jam 7 pagi. Dalam perjalanan sebelumnya hampir 1 tahun yang lalu, saya mulai masuk tanjakan Cariu sekitar jam 8.15. Kali ini sepertinya tak akan jauh beda walau saya ingin bisa mencapainya lebih cepat. Karena tahu sendiri, siang sedikit sepanjang jalur tanjakan Cariu akan menjadi ‘ladang panggangan’ dengan panas menyengat.

Selepas Mekarsari, matahari semakin menyilaukan. Di situ saya baru sadar bahwa kacamata saya tertinggal, sedangkan mata ini harus dilindungi dari sinar dan debu jalanan mengingat perjalanan yang saya lalui akan cukup panjang. Di lapak kecil pinggir jalan yang menjual peralatan sepeda motor saya berhenti sejenak. Si penjual adalah pria setengah baya. Sembari menjaja dia sempat bertanya “Mau kemana,?” saya hanya menjawab pelan “ke Bandung, pak.” Percakapan singkat pun berlanjut dengan kalimat-kalimat herannya ke saya. Dari situ, sebuah kacamata hitam Oakley abal-abal seharga 10ribu perak saya beli. Jangan  bicara kualitas, dengan desain yang terkesan asal-asalan paling tidak Oakley abal-abal itu bisa melindungi mata saya sampai bandung nanti. Lumayan. Dan saya pun kembali beranjak.

Menjelang perbatasan Jonggol-Cariu, suasana masih sama dengan yang saya lihat dan rasakan pada trip sebelumnya. Hamparan sawah luas di balik siluet perbukitan masih tetap memanjakan mata. Menatap ke depan, eksotisme kelokan aspal mulus membelah luasnya dataran tanah Sunda. Meluncur sendiri di atas sepeda, dengan alunan lagu Coldplay di telinga, ibarat sedang dalam proses pembuatan video klip saja. Sepanjang jalur itu keadaan memang selalu sepi. Hanya didominasi oleh pengendara motor. Sekali dua kali angkot menyalip, lalu mobil ber-plat B yang mungkin menuju Bandung, juga tentu saja truk besar beroda banyak yang beratnya ratusan kali bobot sepeda saya.

Gapura Perbatasan Kecamatan Jonggol dan Kecamatan Cariu

Selepas gapura perbatasan kontur jalan mulai berubah. Yang sebelumnya relatif datar menjadi jalur naik-turun dengan lahan pemukiman dan pepohonan tinggi menjulang pada beberapa titik yang terpusat. Dan akhirnya sekitar pukul 08.15, sampai juga saya di Masjid Kubah Hijau. Hitung-hitungan waktu, ternyata lebih lambat dari trip sebelumnya. Saya berhenti di rumah makan yang berada tepat di depan masjid. Perut terasa cukup lapar. Sempat sedikit dilema juga, makan saat itu, atau hanya sekedar istirahat sebentar lalu lanjut melahap tanjakan Cariu yang sudah ada di depan mata?

Saya putuskan untuk pilihan yang pertama. Pertimbangannya, melibas 5km tanjakan Cariu dalam keadaan lapar pasti lebih melelahkan. Dan sudah pasti di puncak Cariu nanti saya akan berhenti lebih lama dari waktu yang saya habiskan untuk makan saat itu. Tak lama-lama, sekitar 30 menit kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan perut yang kenyang. Harapan saya, di puncak Cariu nanti saya tak perlu lagi beristirahat.

Tanjakan Cariu dimulai setelah kita melewati sebuah jembatan beton yang kekar. Sebelum mencapai jembatan, ada pemandangan yang selalu membuat saya tergelitik dan penasaran. Di sisi kiri jalan terdapat warung-warung sederhana yang beberapa di antaranya ‘dijaga’ oleh teteh-teteh ber-make up tebal. Pakaian mereka seksi, bahkan tidak jarang ada yang meminta saya untuk mampir sembari menawarkan minum. Warung-warung itu ada yang sepi, ada juga yang sudah terisi oleh beberapa sopir truk yang diparkir di sisi jalan. Mereka, si sopir dan penjaga warung bercanda sembari tertawa. Namun seperti biasa, saya hanya melewati saja. Mungkin lain kali saya akan berhenti untuk sekedar berbincang mengobati rasa penasaran.

Sudah jam 09.15. Roda sepeda mulai menapak tanjakan. Sesuai dugaan, cuaca saat itu sudah sangat terik. Meski wilayah yang relatif terbuka, hembusan angin seakan tak diizinkan untuk sekedar memberi rasa ‘nyaman’ bagi siapa saja yang nanjak di sana. Hawa panas begitu sempurna menghujam tubuh! Sejujurnya, tak pernah ada pemandangan menarik di sepanjang jalur ini. Justru sebaliknya, mungkin saya yang menjadi ‘pemandangan’ sekumpulan tukang ojek di pinggir jalan, anak kecil di halaman rumahnya yang tandus, juga bagi para pengendara yang melewati saya yang menyempatkan untuk sedikit menyembulkan kepala untuk menunjukan ekspresi heran.

Sekitar 1km menjelang puncak, di tengah hawa panas yang semakin menyengat saya disalip 3 roadies yang sempat saya sapa. Mereka berasal dari Bogor. Dengan ratio gear balap mereka melesat cukup cepat. Bisa terbayang oleh saya seberapa kuat dengkul mereka. Saya tak mau mengikuti, melainkan memilih untuk lebih ‘menikmati’ tiap kayuhan di jalur miring itu saja.

Dan singkat kata, puncak Cariu pun telah terlihat. Di warung yang menjadi titik istirahat para pesepeda yang ‘melancong’ ke sana saya melihat para roadies tadi tengah berisitirahat. Sesuai rencana saat di bawah tadi, saya pun memutuskan untuk lanjut saja melewati mereka meski saya memang cukup lelah. Lagipula saat itu perut saya masih kenyang terisi. Kembali berhenti hanya akan membuat semakin malas untuk beranjak lagi karena otot kaki menjadi ‘dingin’.

Cariu terlewati, saya pun terus meluncur.

Hawa panas bukit tandus berubah menjadi udara khas perkebunan karet. Meski cuaca semakin terik namun sedikit terimbangi oleh hembusan angin akibat luncuran deras saya di jalur panjang menurun. Ya, setelah puncak Cariu meski masih terdapat beberapa jalur rolling, selebihnya adalah turunan. Di sebuah warung kecil yang dijaga seorang ibu tua saya berhenti sejenak untuk refill minum. Ini kali kedua saya menyambangi warung tersebut, dan ternyata si empunya warung masih mengingat saya wajah saya walau sudah hampir setahun lalu kami terakhir bertemu. Hanya sekitar 15 menit saja saya berada di warung si Ibu, dan setelah itu saya pun kembali pamit.

Waktu telah menyentuh pukul 11 siang. Bukan main panasnya cuaca. Menjelang pertigaan Ciranjang sejuknya hutan karet kembali terganti dengan hamparan sawah luas yang terbuka. Tak ada sedikitpun yang menghalangi siraman sinar matahari ke tubuh saya saat itu.

Panas Terik Menjelang Ciranjang

Di sisi kanan, jauh di ujung hamparan sawah sana, sebuah gunung yang menjulang seakan memperhatikan saya yang tampak begitu kecil sedang merangkak tertatih. Di sini angin kembali menjadi kendala. ‘Irama’ kayuhan hanya saya atur agar jangan sampai terlalu loss, dan jangan juga terlalu nge-push. Sesekali ‘mengintil’ di belakang truk besar yang melaju pelan cukup melindungi saya dari terpaan angin. Tapi saya harus hati-hati. Meski sepi kendaraan, hingga pertigaan besar Ciranjang kontur aspal tidak semua rata. Di beberapa titik permukaan jalan bergelombang atau berlubang, dan itu semua terhalang oleh body truk yang besar.

Akhirnya saya telah sampai di jalan utama Cianjur-Padalarang atau tepatnya daerah Ciranjang. Mulai pada titik inilah siapa saja yang bersepeda akan diuji. Bukan lagi cuma angin, melainkan juga panas cuaca dan padatnya lalu lintas kendaraan antar kota yang akan mengiringi di beberapa puluh km ke tujuan, yakni Bandung. Di depan sana, tanjakan Padalarang kira-kira sepanjang 8km juga telah menanti.

Adzan Dzuhur berkumandang di beberapa surau kecil yang saya lewati, beradu dengan gerungan suara mesin bus antar kota yang melesat cepat. Dari rumah-rumah di pinggir jalan, orang-orang rapi berpeci bersiap menuju surau. Di antaranya melirik ke arah saya yang tentu saja terlihat sangat kontras dengan mereka. Ber-bikepants, resleting jersey terbuka hingga bawah dada, tubuh terbalut keringat dan debu tebal, ditambah sedang mengayuh saat matahari berada tepat di atas ubun-ubun kepala mungkin menjadi pemandangan yang cukup aneh bagi mereka. Beberapa,  dari wajah berseri mereka yang terbasuh air wudhu ada yang tersenyum memberi semangat atau mungkin mengisyaratkan saya untuk ‘mampir’. Saya hanya balik tersenyum sambil membalas dalam hati, “Lain kali saja, perjalanan saya masih cukup panjang.”

Perbatasan Cianjur dan Padalarang ditandai sebuah gapura yang sangat besar. Di sisi kiri dan kanan jalan yang lebar berjejer puluhan pedagang es cincau yang dilengkapi dengan tenda sederhana dan tikar yang tergelar. Di tengah cuaca yang terik, hampir seluruh lapak terisi oleh para ‘musafir’ yang mampir. Terlebih saat musim libur atau lebaran, ramainya jangan ditanya. Saat tiba, saya berhenti di sebuah lapak. Sembari ngobrol dengan si penjual, dua gelas cincau dingin tanpa terasa habis ditenggak. Saya sempat bertanya sekedar untuk memastikan, apakah Masjid Rajamandala masih jauh dari situ? Si penjual menjawab tidak jauh lagi. Maka selesai membayar, perjalanan pun berlanjut.

Lapak Cincau Dingin di Gapura Padalarang

Tanjakan Padalarang memang unik bagi saya. Meski telah beberapa kali melewati, saya selalu lupa patokan awal dan patokan akhir tanjakannya. Yang saya ingat, kalau sudah melewati Masjid Rajamandala, artinya tanjakan memang sudah dekat. Mulailah saya berada di kemiringan jalur padalarang. Di awal-awal,  warung-warung penjual es kelapa yang berjejer di bawah rerimbunan pohon besar menjadi pemandangan yang sejuk. Terik matahari terhalang dedaunan dari pucuk pohon besar yang bertemu. Sempat tergoda untuk kembali berhenti dan istirahat, tapi saya urungkan karena takut tertinggal kereta sore menuju Jakarta.

Saya pun terus mengayuh ke atas. Semakin tinggi keadaan semakin ‘menyiksa’. Bukit kapur tandus memantulkan pancaran panas ke seluruh penjuru. Daerah situ memang terkenal dengan pertambangan batu kapur. Maka  jangan kaget saat truk-truk tua berisi batu kapur berukuran besar merangkak di dekat kita, bahkan dengan jarak yang hanya beberapa sentimeter dari siku. Ah, tapi bagi saya itulah seni dan sisi lain menikmati tanjakan. Perjalanan ke Bandung via Cariu memang akan memberikan 2 pilihan. Kalau ingin terhindar panasnya Cariu, kita harus berangkat lebih pagi. Konsekuensinya kita akan tiba di Padalarang tepat tengah hari. Sebaliknya, bisa saja kita sengaja untuk lebih sore menjajaki tanjakan Padalarang, maka menjelang tengah hari berada di bukit Cariu akan terasa sama beratnya.

Lirik jam, telah lewat pukul 1 siang. Sisa 1 hingga 2 km lagi maka tanjakan akan usai. Energi sudah semakin terkuras. Rantai masih menempel pada gear 44t di crank, sedangkan rantai di sprocket terus pindah-pindah mengikuti kekuatan dengkul. Kalaupun harus menggunakan cog terbesar, itu bukan karena elevasi tanjakan yang semakin miring, melainkan harus berhenti akibat angkot yang mendadak menepi.

Dan akhirnya tanjakan pun usai terlewati. Di depan saya kini tampak jalur lurus menurun menuju Cimahi, lalu kemudian Kota Bandung. Saat melewati Danau Ciburuy saya jadi teringat perjalanan yang penuh kesan bersama teman-teman Rosela di bulan Februari tahun lalu. Tempat itu merupakan titik kumpul terakhir sekitar 38 peserta yang ikut. Tapi bedanya, dulu kami berkumpul di sana selepas Maghrib.

Setelah berjuang melewati padatnya lalu lintas di sepanjang Cimahi, akhirnya sampai juga saya di Stasiun Bandung. Di stasiun saya menyempatkan untuk mandi di mushala. Tiket kereta ke jakarta sudah di tangan dengan jadwal keberangkatan pukul 16.55. Sambil menunggu kereta, rebahan di teras mushala dengan ditemani hembusan angin sore Bandung terasa begitu nikmat untuk melemaskan seluruh otot tubuh yang lelah.

Roda pun Menapak di Tanah Bandung

Waktu saat itu menunjukan lewat pukul 2 siang. Dihitung-hitung, perjalanan telah memakan waktu sekitar 8,5 jam atau sedikit lebih cepat dari perjalanan saya sebelumnya yang menghabiskan waktu lebih dari 9 jam. Tapi tetap saja, dalam setiap perjalanan bukan faktor kecepatan waktu yang saya cari, melainkan sebuah pengalaman baru meski harus melewati rute yang lama. Fenomena dari sebuah kehidupan di banyak tempat, juga kebebasan, itulah yang saya cari. Dan mendapatkan itu semua dari atas sepeda membuat saya lupa akan beratnya rasa lelah dalam setiap perjalanan. Benar-benar menyenangkan.

Akhirnya, perjalanan hari ini harus diakhiri oleh sebuah ‘aungan keras’ klakson kereta yang akan saya naiki ke Jakarta. Dan saya pun bergegas…

Sampai jumpa, di perjalanan berikutnya.

12 Responses to Mengulang Perjalanan (Jakarta-Bandung #2)

  1. angkat 4 jempol jal…

  2. Abdu Shebubakar says:

    tambah 4 lagi..klo gw berapa jam baru samape ya😀

  3. dhanichagi says:

    Tanjakan Padalaran sangat misterius… Gw juga ga ngeh dimana awal dan puncak tanjakannya😀
    xixixi…

    Btw itu ban sengaja dituker ke yg lebih tebel gituh? Sayang pake ban mahal buat touring yak?

    • northeist says:

      Hahaha, saat itu gua belum punya Larsen 1.90, baru yang 2.0 aja. Gua pikir pake Kenda 1.95 yg tampak di foto itu bakal lebih entengm ternyata salaaah. Di turunan aja kagak ngacir. :p

  4. inisekar says:

    ‘sakit’ kok gak sembuh2..

  5. Mantaaaaaafffffff one day mau ikutan aaahhhh tp kyknya Jakarta Bandung buat newbie kyk sayah bakalan 24 jam waktu tempuhnya hihihihi

  6. Mantaaaaaaafffffffffffff! Kalo saya Jakarta Bandung pasti nyampe dalam……..24 jam😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: