Segores Kisah di Libur Paskah

Jumat 6 April 2012 dinihari, alarm pagi berdering tepat pukul 03.30. Tandanya saya harus segera bersiap menuju Cibubur. Ya, hari itu, bertepatan dengan libur perayaan Hari Paskah bagi kaum kristiani, Saya, Dhani Chagi, Eko, Abdu, dan Lita telah menyusun rencana untuk touring ke Bandung via Cariu. Memang baru sebulan sebelumnya saya melakukan perjalanan sendirian dengan jalur yang sama. Namun bagi teman yang lain, trip kali ini menjadi perjalanan nostalgia. Dhani misalnya, terakhir menempuh jalur yang sama yaitu sekitar tahun 2008. Begitu juga Eko, sudah cukup lama. Sedangkan bagi Lita ini adalah kali keduanya. Nah, untuk Abdu, ini touring perdana. Itu juga yang membuat perjalanan kali ini menjadi sarat makna.

Disepakati sesampainya di Bandung nanti kami baru akan mencari penginapan dan pulang keesokan harinya dengan kereta. Namun bila tak dapat penginapan, semua sepakat untuk bermalam di Stasiun Bandung. Karena itulah bawaan masing-masing dari kami cukup lengkap, termasuk sleeping bag untuk kami pergunakan bila rencana pertama tidak tercapai. Tiket kereta sendiri sudah dipesan sebelumnya, yakni untuk hari Sabtu 7 April 2012 dengan jam keberangkatan pukul 06.30 pagi.

Pagi di Cibubur dan Mekarsari

Perjalanan dimulai dari Cibubur sekitar pukul 6. Dari situ kami tak hanya berlima, melainkan ditemani oleh Adit dengan roadbike barunya, dan Intan yang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuan kami semua. Rencananya mereka akan ikut sampai puncak tanjakan Cariu walau akhirnya karena alasan waktu, hanya bisa menemani hingga Masjid Kubah Hijau saja. Sepanjang perjalanan hingga Masjid Kubah Hijau, kami lalui dengan lancar dan tanpa kendala yang berarti, kecuali sempat terhenti untuk membenahi pannier pada sepeda Dhani di daerah Mekarsari.

Dan sekitar pukul 09.30 kami telah sampai di Masjid Kubah Hijau. Seperti yang saya lakukan sebelumnya, kami memutuskan untuk makan di situ sebelum melahap tanjakan Cariu. Sup Iga ternyata menjadi makanan favorit beberapa dari kami. Saya, berhubung tak begitu menyukai sup, maka sayur asem hangat dan ayam goreng khas sunda menjadi pilihan utama. Sekitar satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan. Adit dan Intan memutuskan untuk balik arah dan kembali ke Cibubur, tempat dia memarkir mobilnya. Selepas pamitan, kami pun berpisah.

Rumah makan depan Masjid Kubah Hijau

Intan dan Adit pamit

Sudah pukul 10.30, artinya kami harus sampai di puncak Cariu selambat-lambatnya pukul 12.00 agar bisa mengejar waktu shalat Jumat. Kami sempat bertemu dengan 3 pesepeda yang sedang istirahat. Tujuan mereka sama, ke Bandung. Salah satu di antara mereka tengah mengalami kram kaki. Yang cukup mengejutkan, salah satunya ternyata telah terjalin pertemanan dengan saya di ranah social media. Tapi yang lebih ‘menyenangkan’ lagi, dalam perbincangan singkat online ia mengatakan bahwa perjalanannya saat itu karena terinspirasi oleh tulisan saya saat touring sendirian melewati jalur yang sama. Sungguh saya merasa sangat tersanjung.

Perlahan kami pun mulai terpencar. Dhani, Eko, dan Abdu berada di depan. Sedangkan saya dan Lita berada di belakang mereka, tercecer cukup jauh. Seperti biasa, kondisi cuaca sungguh panas menyengat, membuat butiran keringat yang jatuh ibarat butiran biji jagung yang terbakar. Saya dan Lita akhirnya mendahului Abdu di sekitar 2,5 km sisa tanjakan, dan dengan sedikit bergurau saya sempat berceloteh ke Abdu “Inilah Cariu”. Dia Cuma menjawab singkat, “Gila, benar-benar nggak ada jeda jalur datar sedikitpun,”.

Sama-sama 'berjuang' di Cariu

Cariu memang fenomenal. Bahkan seorang Abdu yang telah cukup banyak malang melintang melahap jalur tanjakan di wilayah Bogor dan sekitarnya masih merasa begitu berat untuk terus bertahan tanpa menapakkan kaki di kemiringan jalur beton yang panas. Tapi dengan mental yang sudah teruji, semua pasti bisa terlewati.

Seputar dua putar roda, sampailah saya dan Lita di puncak tanjakan. Disana telah menunggu Dhani dan Eko. Sesuai dengan rencana, kami sampai sekitar jam 11.45, artinya waktu shalat Jumat masih dapat terkejar. Tinggal Abdu yang belum sampai dan diputuskan saya yang menunggu dia. Sedangkan Dhani, Eko, dan Lita langsung menuju ke Masjid lebih dulu.

Tak lama kemudian Abdu pun datang. Meski lelah, tetap saja terlihat aura kepuasan saat saya menyodorkan kamera ke arahnya sebagai dokumentasi ‘kelulusannya’ menaklukan Cariu. Yang saya ingat ucapannya saat itu adalah;

Tadi sempet kepikiran untuk ngegendol ke truk tronton yang jalan lambat di samping gua, tapi gua nggak lulus dong kalau begitu, dan belum tentu nanti bisa secepatnya kesini lagi,”

Abdu dan ekspresi 'kelulusan'

Kami berdua segera menyusul teman-teman yang sudah lebih dulu berada di Masjid.

Masjid itu berukuran kecil, bahkan lebih kecil dari beberapa mushala yang ada di sekitar rumah saya di Jakarta. Letaknya tak jauh dari puncak tanjakan Cariu, mungkin hanya sekitar 1km, itu pun di tengah-tengah jalan yang menurun dan berada di sisi kanan jalan. Di halaman masjid telah terparkir beberapa mobil dan belasan motor para ‘musafir’ seperti kami.

Masjid kecil tempat Shalat Jumat

Di depan pintu terpampang sebuah kotak amal hijau bertuliskan Masjid Al-Ikhlas. Di sana tak ada pengeras suara. Adzan, khutbah, hingga bacaan shalat semuanya murni terdengar dari mulut sang muadzin, khatib, dan imam yang ‘bertugas’. Terdapat perbedaan antara ‘ritual’ shalat Jumat di Jakarta dan di beberapa daerah pedesaan yang saya pernah singgahi. Di desa, termasuk di masjid ini, para khatib cenderung lebih singkat dalam berkhutbah. Padahal saat itu saya berharap mendengar khutbah lebih lama agar punya sedikit waktu tambahan untuk istirahat. Ternyata, tak sampai 10 menit mungkin, shalat pun dimulai.

Bersiap sebelum berserah

Hanya 6 shaf jamaah yang mengisi barisan makmum, dan hampir setengahnya adalah musafir. Suasana begitu khusyu, hanya saja sesekali memang mesti lebih ‘memasang’ telinga saat desingan suara mesin kendaraan yang melaju cepat, beradu dengan lantunan ayat suci nan syahdu dari mulut sang Imam.

Masjid itu berdempetan dengan sebuah warung yang memiliki teras berlantai keramik yang adem. Dan selesai shalat, menyempatkan diri untuk bersenda gurau di tengah ‘sumuknya’ cuaca panas perbukitan cariu tepat pukul 1 siang di situ terasa begitu nikmat bagi kami. Akhirnya sekitar pukul 13.30 kami melanjutkan perjalanan, dan rencananya akan makan siang di daerah Ciranjang.

Memasuki Ciranjang, langit yang sebelumnya terang benderang berubah jadi pekat. Dari arah berlawanan beberapa pengendara motor terlihat sudah mengenakan jas hujan. Begitu juga dengan mobil dan bus kota, kaca depannya telah dipenuhi butiran air. Artinya di depan sana telah turun hujan. Kami terus mengayuh untuk mencari rumah makan, sekaligus titik terjauh bila kami memang harus berteduh. Dan pilihan tempat itu jatuh pada sebuah rumah makan Padang yang berada tak jauh dari pertigaan besar Ciranjang. Kami putuskan berhenti di situ untuk makan siang yang telah sedikit tertunda.

Rumah makan sekaligus tempat berteduh

Benar saja, belum habis hidangan, hujan turun dengan deras. Bahkan sampai makanan tertelan tuntas hujan masih belum mereda. Meski membawa perlangkapan, kami memutuskan untuk beranjak nanti saja, bila hujan berhenti. Baru saat cuaca sedikit cerah kami pun kembali ‘melangkah’. Namun tak bertahan lama, hujan yang kembali turun lagi-lagi membuat kami harus berteduh di sebuah teras rumah warga. Saat itu hari sudah semakin sore, lirik jam, telah hampir menyentuh pukul 6. Positif! Berarti kami akan melewati tanjakan Padalarang pada malam hari.

Suasana gelap gulita meski hujan telah reda. Kami berjalan beriringan tanpa satu sama lain tercecer dengan jarak yang jauh. Hari itu cukup berbeda, walau libur panjang, tapi jalur Padalarang justru sepi, tidak seperti akhir pekan biasanya. Saya berada di depan, dengan Lita, Dhani, Eko, dan Abdu berjejer di belakang. Sesekali sorotan lampu mobil yang melintas begitu membantu penerangan. Namun saat sepi, hanya cahaya dari lampu sepeda yang kami andalkan. Kilatan sinar sesekali mengarah ke para ‘penjaja’ warung remang-remang yang memang banyak berjejer di sisi kiri. Meski gelap, cukup terlihat pakaian mereka yang seksi dan wajah yang ‘berselimut’ bedak tebal. Ada yang sendiri, ada juga yang bergerombol. Beberapa dari mereka bergumam saat kami melintas di depannya. Entah heran, menyemangati, atau berbisik berharap kami berhenti untuk sekedar melepas lelah disana? Ah, siapa yang tahu.

Malam di Padalarang

Sampai di sebuah titik, saat melihat ke belakang ternyata Abdu telah tercecer cukup jauh. Kami menunggu, dan menyuruhnya untuk gantian berada di depan. Ternyata lutut kirinya bermasalah. Itu dapat dimaklumi, siapapun yang gowes perdana dengan jarak seratus km lebih ditambah kontur yang menanjak tentu butuh adaptasi. Dan rasa sakit itu adalah bentuk adaptasi itu sendiri. Perlahan tapi pasti kami terus merangkak naik. Semangat masih sangat terasa, ditambah candaan dari klakson tukang roti di sepeda Dhani, membuat perjuangan justru menyenangkan.

Sempat dua kali berhenti untuk sekedar membiarkan Abdu recovery. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk sedikit mendorong Abdu hingga mencapai Puncak. Setelah itu tanjakan pun usai, berganti dengan turunan panjang dan jalan datar hingga Cimahi, tempat di mana kami berhenti untuk makan malam di tengah udara malam Bandung yang dingin menggigit.

Makan malam di tengah dinginnya udara Bandung

Perut telah kenyang terisi. Meski masih gerimis, kami tetap memutuskan untuk segera menuntaskan perjalanan. Bukan main dinginnya udara malam itu, membuat kami semua (kecuali Eko) harus menggunakan jas hujan untuk sekedar menahan hawa dingin yang menusuk. Beberapa saat sebelumnya Eko mendapat kabar bahwa temannya yang belakangan kami kenal bernama Om Heru menawarkan untuk menginap di rumah family­­-nya di daerah Jalan Aceh, Bandung. Meski begitu masih belum ada kejelasan, makanya kami tetap pada rencana semula yakni menuju stasiun untuk mencari penginapan terdekat.

Sudah sekitar jam 10 malam, jalanan yang kami lalui sudah sepi. Mulai dari Cimahi, Jalan Rajawali, hingga akhirnya kami sampai di sekitaran Stasiun Bandung. Bangunan tua yang biasanya dipenuhi para pedagang kaki lima di siang hari telah terganti dengan keberadaan wanita penjaja kehangatan dengan kaki yang terbuka mulai dari sekitaran pangkal paha ke bawah. Ada yang berdiri persis di pinggir jalan, ada juga yang duduk di mulut gang-gang kecil di antara himpitan bangunan tua. Tangan mereka melambai ke setiap pengendara motor dan mobil yang lewat. Itu persis berada beberapa puluh meter dari terminal kecil pintu belakang Stasiun Bandung.

Kami berhenti di depan sebuah losmen yang ada di dekat situ dan langsung ditawarkan kamar oleh penjaganya yang kebetulan berada di luar. Kami cukup kaget saat mendengar harganya, hanya Rp 40ribu saja perkamar sampai jam 12 siang keesokanharinya. Hmm, spontan kami berpikir ulang. Selain karena fasilitas kamar mandi yang berada di luar kamar, dengan harga yang segitu murahnya tentu saja itu adalah kamar jam-jaman bagi para “penikmat kehidupan malam”. Saya pun menuju ke hotel yang berada di sebelahnya, meski lebih “manusiawi” namun unsur “mesum” masih jelas terlihat, makanya kami putuskan untuk mencari hotel yang agak jauh dari lokasi tersebut.

Bermalam di kediaman Om Heru

Tepat di seberang pintu utama Stasiun Bandung kami menemukan sebuah hotel yang nyaman. Untuk kelas family harganya adalah Rp 370ribu untuk kapasitas 6 orang. Saat hampir dipastikan bermalam di situ, Om Heru ternyata menghubungi dan kembali menawarkan kami untuk menginap di rumah family-nya. Kami pun sepakat untuk menerima. Meski sempat tersasar, akhirnya sampai juga kami di lokasi rumahnya yang ada di Jalan Aceh. Kami disambut hangat penghuni rumah, termasuk juga fasilitas mandi air hangat yang langsung kami gunakan bergantian saat itu juga. Sungguh, rasa terimakasih tak terhingga kami ucapkan ke seluruh anggota keluarga Om heru yang telah begitu baik menjamu kami. Dan akhirnya, perjalanan hari itu berakhir di sebuah kasur nyaman yang disediakan di ruang tamu rumah.

Kali ini alarm kembali berdering, yakni tepat jam 4.30 pagi di hari Sabtu, 7 April 2012. Setengah jam lagi kami harus bergegas menuju Stasiun Bandung untuk pulang ke Jakarta. Meski kursi kereta sudah dipesan, namun tiket yang baru berupa struk pemesanan tetap harus ditukar terlebih dahulu di loket. Maka setelah beres-beres dan pamitan, kami pun beranjak. Oiya, hal lucu di pagi itu adalah saat semua melihat Abdu yang berjalan layaknya robot. Maklum, touring perdana dengan jarak sekitar 150km telah membuatnya untuk sementara sulit menekuk kaki saat berjalan. Tapi syukurlah, hal itu tak jadi masalah saat mengayuh sepeda.

Pagi di Stasiun Bandung

Udara pagi Bandung tak sedingin malam hari sebelumnya. Kondisi jalanan juga masih sepi. Hanya saat melintas di Jalan Braga saja sisa-sisa kehidupan malam masih kentara terlihat. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit kami telah sampai di stasiun dan segera menukar struk dengan tiket perjalanan. Usai ‘negosiasi’ harga dengan petugas di kereta, sepeda segera kami masukan ke gerbong barang yang berada di rangkaian paling belakang kereta. Sedangkan gerbong tempat kami duduk berada di rangkaian terdepan. Tapi tak masalah, selama ini untuk keamanan gerbong barang kereta Argo Parahyangan memang bisa jadi jaminan.

Gerbong barang yang nyaman dan aman di kereta

Kursi empuk kelas bisnis kereta masing-masing telah kami tempati, dan kereta pun melaju tak lama setelah itu. Selanjutnya, bahasan tentang kisah perjalanan hari sebelumnya mengisi perbincangan ringan di atas kereta. Kesan atas perjalanan nostalgia, juga kesan atas perjalanan perdana menapaki jengkal demi jengkal aspal pada kontur yang berbeda.

Yang pasti, ingatan akan selalu penuh dengan kesan, yang salah satunya berasal dari pengalaman perjalanan ke sebuah tempat yang sewaktu-waktu kembali memanggil. Dari semua kisah, pasti akan membuat kami mengulang perjalanan dengan sepeda, entah kemana lagi tujuannya.

Sampai jumpa, di perjalanan berikutnya…

12 Responses to Segores Kisah di Libur Paskah

  1. kalo gw yang ikut Jalii kudu nunggu semaleman kali yaa hahahaahah gilaaaa kapan2 pingin ikuuuuutttttt

  2. Abdu Shebubakar says:

    Wah gw masuk tulisannya om Jaliii wuhuuuu.. besok2 klo kbandung,pas di cariu mw gendol truk ahh,kan yg blm lulus padalarang😀
    *gw berasa tidur ama perempuan,dhani cakep amat :))

  3. Intan satria says:

    cariu memang fenomenal…saya pun mau dsuru balik lagi ksitu…

  4. GEpiZuniArwinto says:

    …kapan yaa bisa ikut🙂

  5. Gie Lang says:

    Spechless..!! top lo pada!

  6. Foto om Abdu sama Om DC tidur serasa habis diapain gituh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: