Meretas Tiga Tapal Batas #2

Hari Kedua, Salawu-Malangbong-Sumedang-Jatinangor(140km)

Udara dingin masih menusuk. Suara kendaraan yang sesekali lewat memecah keheningan dinihari. Lirik jam, sudah hampir jam 5 pagi. Kumandang Adzan baru saja selesai, dan saya harus segera bersiap-bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Jarak hari ini 2 kali jauhnya dari jarak kemarin.  Selesai sarapan  dan berbincang, saya pun pamit. Sungguh keluarga yang hangat dan menyenangkan. Dan nanti, saya berjanji untuk kembali lagi ke sini.

Matahari pagi begitu hangat saat saya meninggalkan rumah. Selepas perbatasan, suasana yang tadinya berupa areal sawah luas berganti menjadi wilayah pemukiman. Bila dari rumah menuju Garut merupakan jalur tanjakan, menuju ke arah Tasik justru kebalikannya, jalan relatif datar dan menurun. Tapi memang, pemandangan tak seindah dari Kecamatan Cilawu menuju Salawu.

Sesekali saya berpapasan dengan bus tujuan Jakarta. Lucu, tatkala pikiran tergelitik oleh pertanyaan “Kenapa tak saya stop saja bus itu, dan dalam 4 jam ke depan saya sudah sampai Jakarta, tak perlu menunggu besok.” Ah, sudahlah.. itu bukan pertanyaan putus asa. Setidaknya tidak untuk saat itu.

Saya sempatkan mampir sejenak di sebuah minimarket. Sang kasir, wanita cantik yang tengah hamil muda menyempatkan bertanya tujuan saya. Saya katakan saya akan menuju Malangbong melalui Kota Tasik. Dengan lugas ia memberi masukan yang sedikit “memaksa” agar saya melalui jalan baru saja, jangan melalui Tasik yang katanya terlalu jauh memutar.

Alun-alun Singaparna

Singkat cerita, sampailah saya di Alun-alun Singaparna, wilayah yang konon masih seringkali terjadi konflik antar penganut kepercayaan. Saya mencoba mencari pembenaran dari apa yang dikatakan kasir tadi dengan bertanya ke penarik becak yang mangkal. Ternyata jawabannya sama, tersirat secara implisit dari mereka bahwa bila saya melalui Kota Tasik untuk menuju Malangbong, artinya saya bodoh. Dan saya pun kembali diarahkan untuk melewati jalan baru, untuk melalui Kecamatan Cisayong menuju Malangbong.

Letak pertigaan yang memisahkan arah Tasik dan jalan baru tak begitu jauh dari alun-alun. Arah lurus adalah jalur menuju Tasik, sedangkan jalan baru belok ke kiri. Di dekat situ terdapat gapura sebuah pintu masuk pesantren yang cukup megah. Kenapa disebut jalan baru? saya tak tahu. Tapi sepertinya karena jalan tersebut memang jalan alternatif yang masih dalam proses penyempurnaan. Kondisi permukaan aspalnya masih bercampur dengan pasir halus. Dan semakin jauh dari pertigaan besar tadi, semakin banyak titik-titik dengan kondisi jalan yang rusak dan berlubang.

"Jalan baru" menuju Malangbong

Truk-truk pasir yang lewat membuat hamparan butiran pasir menjadi berterbangan menerpa tubuh dan wajah. Sesekali saya basuh wajah dengan air untuk menghilangkan debu. Ternyata di daerah situ memang terdapat banyak area penambangan pasir dan pemotongan kayu. Pemukimannya tidak padat, hanya terpusat dari satu titik ke titik lainnya dengan jarak tertentu. Seperti kota transit.

Meski sisi jalan masih banyak  area persawahan yang cukup sedap dipandang, di sini jangan berharap akan hawa yang sejuk bagi tubuh, karena memang areanya begitu terbuka. Di sisi jalan tak ada pepohonan yang menjulang. So, sinar matahari akan begitu bebas “membakar” apapun yang berada di situ, termasuk saya.

Setelah “bosan” disajikan jalur yang datar, saya melewati tanjakan panjang pertama sejak masuk melalui pertigaan tadi. Dan setelah tanjakan ini, di depan nanti tanjakan-tanjakan serupa semakin sering ditemui. Ternyata melelahkan juga. Bukan karena elevasi, melainkan karena cuaca yang pengap dan panas. Meski terdapat beberapa warung di sisi jalan, tapi saya tak mau terlalu dini untuk menghabiskan waktu disitu. Perjalanan masih jauh.

Ujung aspal menuju Kec. Cisayong

Di sebuah perempatan, jalan aspal telah habis. Sisanya adalah jalur tanah berbatu yang digunakan sekumpulan bocah untuk bermain sepakbola. Di dekat situ terdapat sebuah papan petunjuk dari kayu tertulis arah Ciawi-Tasik via Cisayong kira-kira 5km dari situ. Saya pastikan dengan bertanya ke warga, ternyata benar, saya harus mengambil jalan ke kanan sesuai petunjuk tadi. Tak jauh dari mulut jalan, ternyata saya memang sudah memasuki wilayah  Kecamatan Cisayong.

Jalan kecamatan ini berupa jalan sempit padat pemukiman penduduk. Selama 5 kilometer ke depan merupakan jalur menurun dengan berbagai rupa kontur, mulai dari aspal, jalan tanah, hingga bebatuan lepas. Tak butuh waktu lama untuk saya tiba di jalan besar Tasik-Rajapolah.

Konon Tasik adalah kota para santri. Paling tidak hal itu tergambar pada sebuah mini market yang saya masuki hari itu. Dua orang kasir pria menggunakan baju koko dan peci putih, mereka sangat rapih. Di depannya, beberapa orang wanita bercadar hitam tengah antri membayar. Agak jengah juga, karena saya berdiri antri dengan mereka untuk sekedar membeli minuman hanya menggunakan jersey dan bikepants yang super ketat. Salah tempat, pikir saya.

 

Melaju di jalan Rajapolah, saya ibarat menjadi seekor semut yang berada di tengah diorama miniatur bus-bus besar. Mereka begitu mendominasi dengan suara klakson yang mengintimidasi. Bukan hanya dari belakang, tapi juga dari arah berlawanan, bila kita tak melambaikan tangan, para supir akan dengan bebas menggunakan jalur kita untuk mendahului kendaraan di depannya. Tak ada pilihan lain bukan, selain menyingkir. Dan itu terus terulang.

Jalur ini juga ibarat “mesin pemanggang”. Panasnya begitu menyengat. Satu-satunya yang menghibur adalah keberadaan toko yang menjual pernak-pernik ukiran khas Tasikmalaya. Tapi tetap saja saya tak mampir untuk belanja, karena backpack yang saya bawa  sudah tak ada lagi ruang untuk penyimpanan.

Jalan raya Rajapolah

Mendekati kecamatan Ciawi jalur mulai menanjak. Tak curam, tapi panjang. Sesekali jeda oleh jalur datar, lalu akan kembali disambut tanjakan. Begitu seterusnya sampai alun-alun kecamatan Ciawi. Saya sering mendengar tentang  karakteristik jalur ini dari beberapa teman penyepeda. Dan ternyata memang sesuai dengan apa yang dikisahkan. Di sini saya sempatkan untuk sekedar me-recovery tenaga di sebuah mushala kecil di pinggir jalan untuk selanjutnya kembali mengayuh kembali ke arah Kadipaten.

Kecamatan Ciawi dan Kadipaten dihubungkan oleh Jalan Gentong. Dan di jalur inilah fase berat yang saya alami. Jalur Gentong merupakan wilayah perbukitan yang tandus dan berkelok. Elevasi tanjakan cukup curam, bahkan beberapa diantaranya memang tergolong curam. Kalau yang pernah mencoba jalur Lingkar Nagreg dari arah Garut, seperti inilah karakternya, paling tidah cuaca panasnya.

Sama seperti di Nagreg juga, pemandangan truk yang tersendat karana tak kuat menanjak kerap saya lihat di sini. Bahkan sejak kemarin crank yang saya gunakan masih mentok di 32T. Namun saat di sini ternyata saya harus “menuruti kemauan” dengkul untuk mengayuh ngicik. Dengan kata lain, saya tak bisa lagi mengandalkan power.

Jalur tanjakan Gentong menuju Kadipaten

Entah berapa kilometer panjangnya, semakin ke atas semakin panas juga matahari membakar. Sudah tepat tengah hari, membuat tenaga semakin cepat terkuras. Saya tak mau ngeyel, maka saya putuskan untuk beristirahat di sebuah warung sisi kanan jalan. Agak lama saya di sana, bahkan hampir tertidur. Segelas besar teh manis hangat cukup membuat stamina sedikit pulih, termasuk dorongan semangat dari si teteh penjaga warung yang mengatakan bahwa tinggal dua kelok tanjakan lagi, saya akan sampai di Kadipaten.

Selepas dua kelokan, dari kejauhan di atas sana tampak sebuah tower pemancar. Feeling saya, sama seperti di Cariu, puncak tanjakan mungkin ditandai oleh keberadaan tower. Dan ternyata memang benar. Akhirnya terlewat juga tanjakan nista kali ini. Benar-benar gila.

Tak butuh waktu dan perjuangan berat untuk sampai ke Alun-alun Malangbong dari Kadipaten. Saat itu sudah hampir jam 1 siang, maka saya putuskan untuk makan di sebuah warung kecil tak jauh dari alun-alun. Saya berada cukup lama di warung ini. Selain untuk memulihkan tenaga, sekaligus juga numpang men-charge HP untuk menjaga komunikasi dengan Dika, seorang mahasiswa tingkat akhir Unpad yang akan menampung saya di Jatinangor nanti. Dua porsi nasi dengan sayur sup dan sepotong ayam goreng terasa begitu nikmat. Setelah cukup kenyang, saya kembali beranjak untuk selanjutnya menuju Kecamatan Wado.

Beberapa tahun lalu saya pernah melewati jalur ini dengan sepeda motor, tapi tak begitu ingat secara pasti konturnya. Dan ternyata dari Malangbong menuju Wado lagi-lagi didominasi jalur tanjakan. Jalur ini sepi, hanya sesekali saya berpapasan dengan kendaraan yang lewat. Maklum, jalur ini memang merupakan jalur alternatif saat musim lebaran bila jalur Nagreg sudah mengalami kemacetan total. Tanjakannya juga tak curam-curam amat, hanya saja berkelok dengan lembah di sisi kiri dan dinding tebing di sisi kanan.

Tugu perbatasan kecamatan Malangbong dan Wado sekaligus menjadi penanda bahwa tanjakan sudah habis. Selanjutnya menuju Kecamatan Darmaraja jalur kembali berupa turunan panjang. Disini mulai ditemui perkebunan karet, pohon pinus, dan pohon-pohon tinggi khas daerah pegunungan. 

Batas Kecamatan Wado-Malangbong

Singkat kata, sampailah saya di Darmaraja. Dan ini menjadi fase terberat kedua dalam perjalanan hari ini. Darmaraja ternyata merupakan kecamatan di dataran rendah di Kabupaten Sumedang. Artinya, untuk menuju pusat Kota Sumedang saya harus melewati dominasi jalur menanjak lagi sampai Kecamatan Situraja.

Sudah menginjak pukul 3 sore. Gerimis juga mulai turun di tengah stamina yang semakin terkuras. Tanjakan demi tanjakan seakan tak ada habis dan tak berujung. Di sini saya beberapa kali berhenti karena otot kaki yang mulai menegang. Lalu kembali melanjutkan tatkala mulai relaks. Sempat juga berhenti untuk sekedar melihat maps berapa km lagi jarak sampai Situraja. Ternyata masih cukup jauh. Saat itu yang terpikir adalah bagaimana caranya secepat mungkin masuk pusat kota agar tak keburu malam melintas di kawasan Cadas Pangeran nanti.

Saya berhenti  di bawah baligho besar bergambar Gubernur Jawa Barat yang tengah tersenyum tepat di tengah-tengah jalur dengan kemiringan hampir 45 derajat. Saya putuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan menuju pusat kota dengan angkot saja. Dari sana baru mengayuh melewati Cadas Pangeran. Sialnya, semua angkot disitu model kursinya sama dengan mobil carry pribadi. Tak ada space untuk sepeda , dan lagipula selalu dipenuhi penumpang.  Apa mau dikata, tak ada pilihan lain selain  kembali mengayuh perlahan demi perlahan.

Hampir jam 5 sore akhirnya saya sampai di pusat Kota. Hanya refill minum sebentar saya langsung kembali beranjak untuk mengejar waktu. Bukan apa-apa, wilayah cadas pangeran yang berjarak sekitar 10km dari Kota Sumedang merupakan daerah perbukitan yang tertutup oleh rimbun pepohonan. Penerangan juga sangat minim di saat malam hari. Cahaya bulan, walau purnama sekalipun tak seluruhnya sampai ke permukaan jalan. Jadi, nanjak dalam keadaan seperti itu pada malam hari lebih baik saya hindari untuk meminimalisir risiko.

Dan sampailah saya di jalur cabang Cadas Pangeran. Saya memutuskan untuk mengambil jalur kanan yang merupakan jalur potong. Truk dan bus besar tak boleh lewat situ karena ditakutkan menyebabkan longsor. Maklum, jalur ini memang berada lebih tinggi dari jalur utama Cadas Pangeran. Meski lebih sepi, konsekuensinya saya harus menghadarpi sekitar 300 meter tanjakan yang sangat curam di awal. Dulu, tempat ini begitu terkenal dengan kisah rawan kasus ‘begal’ atau perampokan. Keadaan masa lalu di sini memang sepi. Kanan kiri hanya berupa rimbun tumbuhan dan belukar. Tapi sekarang, rentetan  warung remang-remang lengkap dengan wanita penjajanya dengan alunan musik khas Pantura telah membuat suasana menjadi lebih ramai.

Kembali ke jalur yang saya pilih, ternyata saya mengambil keputusan yang kurang tepat kali ini. Belum setengah tanjakan otot kaki sudah menegang. Aaah, stamina memang sudah benar-benar habis sepertinya. Akhirnya dengan tenaga yang ada, saya menghabiskan sisa tanjakan dengan menuntun sepeda hingga puncak. Setelah itu saya kembali mengayuh menuju Pasar Tanjungsari.

Cadas Pangeran. Saya TTB di sini.

View dari atas Cadas Pangeran

Sisi jalur Cadas Pangeran berjejer warung remang-remang lengkap wanita penjajanya yang berdiri di depan warung. Sayang, hasil foto nge-blur.

Dari Pasar Tanjungsari, Jatinangor hanya sekitar 10 km lagi. itupun turunan. Hari sudah gelap, beberapa menit lalu Adzan Magrib telah berkumandang. Memutuskan untuk berhenti sejenak di kios penjaja tahu Sumedang sungguh nikmat rasanya. 5 buah tahu yang tak lagi hangat mengisi bagian perut yang kosong.

Sembari Cek handphone, saya langsung mengabari Dika kalau posisi saya saat itu sudah hanya selemparan batu dari tempatnya. Kami pun bertemu di depan gerbang komplek perumahan yang menjadi tempat kost Dika.

Dan akhirnya, di kamar nyaman yang tertata khas mahasiswa miliknya, perjalanan telah  berakhir. Semangkuk soto panas dengan porsi nasi double telah membayar rasa lelah beberapa saat sebelumnya. Siraman air dingin Jatinangor juga telah membasuh tubuh yang terbalut segala rupa zat, debu, hingga partikel yang ditemui pada sepanjang jarak 140 km hari ini. Sungguh perjalanan yang luar biasa dan melelahkan. Sayangnya tak ada cermin. Padahal saat itu ingin sekali saya melihat bentuk wajah saya yang sudah terbalut keringat, pasir, dan asap kendaraan seharian ini.

Untuk perjalanan pulang ke Jakarta saya tak akan bahas. Karena seperti biasa, saya menggunakan kereta.

Terimakasih untuk Teh Ai dan keluarga di Salawu atas jamuannya:

Teh Ai dan keluarga di Salawu

Juga untuk Dika yang telah memberikan kesempatan untuk sejenak merasakan kembali nikmatnya menjadi mahasiswa kos-kosan. Hahaha, semoga cepat lulus teman.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, di tapal batas-tapal batas selanjutnya.

6 Responses to Meretas Tiga Tapal Batas #2

  1. inisekar says:

    sayang, gak ada foto yg lagi nuntun..

  2. dhanichagi says:

    Ancuuur lo aja TTB Jal, apalagi kita2?😦
    Btw di tiap postingan lo ada satu ciri khas yang pasti muncul: warung remang2😀
    xixixixi…

    • northeist says:

      Yess… realita kehidupan di pedalaman juga ngga kalah dengan Ibukota Dhan. Cek di atas deh, udah nambahin foto suasananya. Tapi sayang ngeblur. Maklum, takut dikejar gerombolan tukang ojek yang jadi bekingan disitu kalo ketawan motret.🙂

  3. Sabat says:

    Najis….Najis

  4. Abdu Shebubakar says:

    Kerenn Jal…edaaan, bacanya aj bikin dengkul gw nyut2an😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: