‘Kloter’ Malam Menuju Bandung

Mengisi libur panjang 17-20 Mei lalu, sebenarnya sudah terencana ikut seorang teman untuk bersepeda di wilayah Garut. Namun karena satu dan lain hal niatan itu batal, dan terganti oleh rencana (lagi-lagi) touring ke Bandung. Tapi sedikit beda dari sebelumnya, saya dan Lita mencoba untuk memulai perjalanan menjelang malam dari Jakarta via Puncak, dan bermalam di Warung Mang Ade untuk keesokan harinya melanjutkan lagi perjalanan ke Bandung via Cianjur-Padalarang.

Jakarta – Puncak Pas (17 Mei 2012)

Tidak seperti sebelumnya, di perjalanan kali ini Missile X-Nine saya telah dipasangi rak yang saya pinjam dari sepeda Lita. Sebenarnya posisi pemasangan rak memang agak ‘maksa’ dengan mengaitkan tumpuan bawah rak di rangka seat stay, bukan rangka chain stay. Tapi setelah dipastikan, posisi rak terpasang dengan cukup kokoh.

Kami start jam 5 sore dari Jakarta (Petukangan). Cuaca Jakarta cukup cerah, dan kami putuskan untuk lewat Jalan Raya Parung-Bogor. Pada kondisi long weekend seperti ini kendala yang cukup mengganggu di sepanjang jalur itu biasanya iring-iringan rombongan pesepeda motor yang berisik dan ugal-ugalan. Tapi syukurlah, malam itu situasi jalanan lebih bersahabat.

Pemasangan rak di rangka sepeda

Pasar Parung yang biasanya macet total di saat liburan juga ternyata sangat lengang. Makanya sepanjang kayuhan terasa begitu nikmat dan santai. Bahkan saking santainya, tak terasa butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai Bogor. Tapi tak apa, judul touring kali ini memang ingin gowes santai kok, tanpa terikat waktu, yang penting selambat-lambatnya menjelang tengah malam kami sudah harus sampai di Warung mang Ade, Puncak Pas.

Sayangnya, baru masuk kota Bogor hujan deras malah mengguyur. Dua kali kami berteduh dengan waktu yang cukup lama. Alhasil saat sampai Gadog sudah jam 12 malam. Saya memperkirakan, bila mengikuti kayuhan Lita maka paling cepat kami baru akan sampai Puncak pas jam 03.30 dinihari. Ah, terlalu buang waktu, padahal besok pagi perjalanan masih lumayan panjang. Makanya, saya memutuskan untuk naik angkot saja dari Gadog sampai Taman Safari. Sisanya baru kami genjot ke atas. Oiya, biaya angkot dikenakan 20ribu rupiah untuk berdua.

Meski santai, waktu adalah patokan. Angkot pun jadi solusi.

Saya sudah dua kali nanjak di jalur Puncak tepat tengah malam. Menyenangkan. Dari ketinggian saya bisa melihat indahnya kelap-kelip kota Bogor jauh di bawah sana. Saat di atas sepeda pun angin dingin justru tidak begitu terasa menusuk, malah membuat tubuh ini nyaman saat angin beradu dengan suhu panas tubuh yang sedikit berpeluh. Ditambah teriakan menyemangati dari orang-orang yang sedang menikmati liburan di jalur puncak. Cukup seru pokoknya.

Sekitar pukul 02.15 kami sampai di Warung Mang Ade. Segelas teh manis hangat dan semangkuk Indomie rebus menjadi penghantar tidur malam itu, di atas bale kayu sederhana bercampur dengan para pengunjung lain.

Sepeda terparkir tepat di samping bale-bale tempat kami tidur.

Puncak Pas – Bandung (18 Mei 2012)

Jam 7 pagi suasana Warung Mang Ade sudah cukup ramai, termasuk oleh rombongan pesepeda dari Makassar yang akan main di trek RA klasik. Saya berkenalan dengan seorang yang bernama Om Jabir dari Bintaro, yang kebetulan menjadi ‘tuan rumah’ dalam rombongan itu. Lucunya, sepeda saya sempat dikira sepeda temannya yang sedang ia tunggu, dan saya hanya membawakan saja. Saat temannya yang dimaksud datang, eyalaah, ternyata Om Hadi Daru dari Rocketers. Jadilah kami malah berbincang seru bertiga.

Sebenarnya mata masih sembab dan sepet, tapi kami harus segera beranjak. Sepiring nasi goreng kambing menjadi menu pembuka perjalanan. Jam 08.00 saya berangkat. Angin pagi malah jauh lebih dingin dibanding malam sebelumnya. Sampai daerah Cipanas bisa dibilang saya meluncur sambil menggigil kedinginan. Beberapa pom bensin pun saya mampiri untuk sekedar kencing akibat dinginnya cuaca.

Nasi goreng kambing, salah satu menu andalan di Warung mang Ade

Berpose dulu sebelum berangkat.

Kami mencapai Cianjur, lalu menelusuri jalan lurus menuju Padalarang. Cuaca cukup panas saat itu, dan saya sempatkan berhenti sejenak untuk memakai sun block ke kulit lengan. Sebenarnya jarang saya melakukan ini, namun saat touring  ke Garut, Tasik, dan Sumedang sebelumnya, kulit saya terasa terbakar. Anggap saja kali ini saya kapok.

Di sebuah warung makan Sunda kami berhenti sekitar jam 11.30 siang. Namanya RM Laksana, yang lokasinya hanya beberapa puluh meter sebelum gerbang Padalarang. Tak banyak menu yang tersedia disitu, namun sepiring nasi dengan sayur asem dan ayam goreng terasa begitu nikmat. Kami memilih tempat di bale-bale bambu bagian luar. Angin berhembus sepoy-sepoy. Dan setelah makan, kami pun menyempatkan untuk sejenak tidur siang.

Jam 13.00 kami kembali mengayuh. Meski sempat berteduh karena hujan akhirnya tiba juga kami di daerah gunung kapur Tanjakan Padalarang. Lalu lintas cukup padat. Beberapa kali kami harus disalip oleh truk tua yang membawa bongkahan batu besar tanpa pelindung di bagian belakang. Bahkan DIIKAT PUN TIDAK. Kalau sudah begitu lebih baik berhenti sejenak untuk menjauh. Cari aman. Tapi syukurlah semua lancar.

RM Laksana, cukup recomended bagi pesepeda yang melintas

Di Padalarang, truk dengan cara pengangkutan semacam ini adalah hal biasa.

Di Cimahi lagi-lagi hujan turun dengan deras. Sudah pukul 5 sore, dan kami berteduh di sebuah Alfamart. Sempat khawatir juga, apa bakal sempat ‘mengejar’ kereta terakhir menuju Jakarta yang berangkat jam 19.45? Kalaupun bisa sampai stasiun sebelum jam itu, takutnya tiket justru sudah habis. Akhirnya baru teringat kalau Alfamart menjual tiket kereta secara online. Kadangkala jalan keluar memang muncul saat otak merasa terdesak. Hehehe.. Dan akhirnya, tiket pun sudah di tangan. Eh, ini bukan “blog berbayar”.

Sebelum kereta berangkat

Kami sampai stasiun menjelang magrib. Masih ada waktu sekitar 2 jam untuk mandi di mushala stasiun, juga untuk makan malam seporsi sate ayam persis di depan pintu utama Stasiun Bandung. Dan akhirnya sekitar jam 19.45, kami sudah duduk nyaman di atas kursi kereta menuju Jakarta.

Kesimpulannya, bagi yang ingin menikmati touring jarak pendek Jakarta-bandung namun dengan sedikit ‘sensasi’ di perjalanan, memilih waktu berangkat pada malam hari ternyata bisa jadi pilihan yang menyenangkan. Termasuk salah satunya saat menelusuri jalur Puncak tepat tengah malam. Waktu tempuh perjalanan dalam tulisan ini memang cukup lama, karena dari awal memang kami memutuskan untuk santai, sesantai mungkin.

Salam.

7 Responses to ‘Kloter’ Malam Menuju Bandung

  1. Geza says:

    …kapaaaaaaan gw bisa ngikut….🙂

  2. northeist says:

    Ngemeng aja ah Pak Kacab.🙂

  3. dhanichagi says:

    Tumben sepanjang Puncak ga ada warung remang2? :p
    Btw ada kejadian apa sama kondektur kereta?

  4. Ardi says:

    om, itu naik kereta apa? trus sepeda masuk kemana? kena brapa tiketnya? tq

    • northeist says:

      Kereta Argo Parahyangan, Bandung-Gambir. Sepeda bisa ditaro di gerbong barang, tapi lapor dulu sama kondekturnya. Tiket orang sih bisnis 40ribu, eksekutif 80ribu, sepeda kena biaya sekitar 20ribuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: