(Review) UBL MTB Cross Country 2012 Race – Kelas Senior.

Ada yang spesial di event balapan kali ini, yaitu untuk pertama kalinya saya turun menggunakan Missile X-Nine yang saya beli beberapa bulan lalu. Namun di sisi lain ada sedikit perasaan khawatir juga sebelum race dimulai. Ceritanya, sehari sebelum lomba atau tepatnya Hari Sabtu, 2 Juni 2012, saya mengganti rantai lama dengan rantai yang baru. Tap saat ditest di dalam trek yang ada malah menjadi trouble.

Posisi RD seakan tidak presisi terutama saat menggunakan kombinasi gear set berat. Ketika pedal  ditekan kayuhan seringkali loss disertai suara kasar di bagian cassette. Ternyata menurut beberapa teman bukan setting-an RD yang bermasalah, tapi disebabkan oleh kondisi mata gear (cassette). Sebagai catatan, umur cassette dan rantai saya yang lama memang sudah hampir 2 tahun. Dengan kata lain kondisi permukaan cassete telah terbentuk sesuai dengan lubang pin (mata rantai) yang lama. Ketika menggunakan rantai baru yang masih “licin”, tentu butuh penyesuaian agar pin rantai bisa “klop” saat tertancap oleh gerigi cassette. Itu logika berpikir saya. Akhirnya saya memutuskan menggunakan lagi rantai yang lama yang SAYANGNYA SUDAH SAYA POTONG TERLALU PENDEK. Jadilah saat balapan saya menggunakan rantai dengan sambungan sekitar 8 pin rantai yang baru (sedikit masalahnya saya ceritakan di paragraph lain)

Seperti biasa, saya turun di kelas Senior bersama Adit dan Dhani Chagi dengan mengusung nama 1PDN Cycling sebagai club/komunitas yang saya wakili.  Saya mendapat nomor balapan 336 dengan start di posisi sekitar 30-an, atau baris ke-3 dari garis start dengan Dhani Chagi di depan saya, dan Adit yang berada di belakang saya. Antusiasme peserta kali itu memang cukup luar biasa. Kalau tidak salah kelas Senior diikuti oleh sekitar 60-an pembalap. Jadi bisa dibayangkan betapa ‘rusuhnya’ suasana di starting line saat bendera start baru dikibarkan.

CRASH!!!

Dan benar saja, sesaat bendera di angkat, di depan saya terjadi crash yang melibatkan beberapa pembalap. Sempat terhenti sejenak di tengah “kerumunan” akibat tabrakan, sebelum akhirnya saya dapat kesempatan untuk menyodok melalui sisi kiri untuk menghabisi sisa trek aspal.  Di jalur rumput keadaan juga tak kalah seru. Meski lebar, namun kontur jalur yang enak untuk dipijak roda sepeda ya bisa dibilang hanya berupa single track saja. Sisi kanan kiri merupakan tanah miring yang ditumbuhi pohon-pohon yang baru ditanam. Namun karena tak ada garis batas, para pembalap nekat saling salip menerabas dan meliuk di sela-sela batang pohon tersebut.

Di sini masalah di rantai sepeda saya mulai terasa lagi. Keinginan untuk mengejar peleton depan membuat kombinasi gear berat menjadi satu-satunya pilihan. Meski tak separah saat menggunakan rantai baru, sesekali kayuhan loss dan kasar di cassette terjadi. Mungkin itu terjadi saat pin rantai yang sambungan tadi sedang berada di mata gear cassette, karena 8 pin rantai sambungan memang merupakan jumlah yang cukup banyak.

Terpaksa mengandalkan RPM untuk menghindari tekanan rantai yang terlalu kencang

Trauma dengan kejadian putus rantai di lap 1 Cihuni Race tahun lalu, kali ini saya tak mau ambil risiko. Tanjakan-tanjakan yang sebenarnya lebih enak dilibas dengan kombinasi gear berat saya lewati dengan kombinasi gear sebaliknya, gear ringan. Memang, akhinya dalam setiap melibas tanjakan di tiap lap saya tampak seperti nubie yang baru belajar sepeda karena mengayuh dengan RPM tinggi yang berantakan, tanpa power yang signifikan. Tapi biar saja, daripada putus rantai, maka akan lebih menyakitkan lagi.

Lap pertama saya lalui dengan beberapa kejadian, termasuk yang lucu adalah saat saya mendengar Adit yang ada di belakang saya tengah membentak-bentak dengan begitu galaknya seorang pembalap yang menyalipnya dengan bar-bar. Saya ingin tertawa tak bisa, mulut ini sudah terlalu sibuk digunakan untuk menarik dan membuang nafas dari paru-paru yang kembang kempis.

Satu kejadian lagi adalah saat saya terhalang salah seorang pembalap yang jatuh di depan saya di trek pinggir danau. Kenapa terhalang? Karena saat sudah jatuh dan hendak menaiki kembali sepedanya, dia justru sengaja menghalangi dengan posisi sepeda yang melintang. Teriakan “trek” tak digubris, maka terpaksa saya sedikit memaksa ke sisi kanan mengambil jalur sempit. Alhasil pedal kiri pun tersangkut di jari-jari roda depan sepeda pembalap tersebut. “Bletak!” saya yakin satu jari-jari sepedanya patah. Salah sendiri, yang penting saya berhasil lewat.

Saya, Adit, dan Dhani Chagi

Lap ke-2  peleton sudah jauh terpisah. Saya sendiri bisa dibilang hanya berlomba saling mengambil alih posisi dengan 2-3 pembalap saja. Saya menyalip di aspal, dibalas lagi di jalur rumput. Saya salip lagi di hutan bambu, di pinggir danau kembali saya dipecundangi. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya menjelang masuk lap ke-3 saya mendengar marshal  pencatat waktu mengatakan saya berada di posisi 18. Wah, berarti harus lebih cepat.

Baru di lap ke-3 saya berhasil melewati 2 pembalap di jalur aspal. Tak lama setelah itu, di hutan bambu seorang pembalap juga berhenti karena mengalami kram. Dan kembali terdengar marshal  yang berteriak bahwa saya sudah berada di posisi 15. Peleton depan sudah terlihat jauh, tapi dibelakang seorang pembalap malah menempel terus. Saya pikir lebih baik cari aman dengan pedalling mempertahankan posisi daripada memaksa mengejar rombongan depan, tapi yang ada malah drop di sisa lap dan membuat posisi terakhir saya direbut.

Akhirnya, garis finish pun terlewati. Posisi tak berubah, saya finish di posisi 15 dengan catatan waktu 41 menit 52 detik, atau selisih sekitar 6 menit dari pembalap terdepan. Tentu bukan hasil yang istimewa, tapi paling tidak ada sedikit kepuasan ketika saya merasa berhasil meminimalisir akibat dari trouble rantai sepeda. Dengan keadaan itu, hasil yang didapat memang pantas dan harus saya terima. Ke depan nanti, persiapan tentu harus lebih matang.

Finish line

Result

Thanks untuk Adit dan Dhani Chagi yang telah menjadi rekan hebat dalam balapan kali ini. Terimakasih juga untuk Sabat, Lita, dan Jerry atas support semangat, foto-foto, dan tentu saja sebagai tim feeding yang hebat.

Sampai jumpa di balapan selanjutnya.

6 Responses to (Review) UBL MTB Cross Country 2012 Race – Kelas Senior.

  1. ck ah.. sayang urutan 17 nggak masuk page one😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: