(Review) UBL MTB Cross Country 2012 Race – Kelas Senior.

Ada yang spesial di event balapan kali ini, yaitu untuk pertama kalinya saya turun menggunakan Missile X-Nine yang saya beli beberapa bulan lalu. Namun di sisi lain ada sedikit perasaan khawatir juga sebelum race dimulai. Ceritanya, sehari sebelum lomba atau tepatnya Hari Sabtu, 2 Juni 2012, saya mengganti rantai lama dengan rantai yang baru. Tap saat ditest di dalam trek yang ada malah menjadi trouble.

Posisi RD seakan tidak presisi terutama saat menggunakan kombinasi gear set berat. Ketika pedal  ditekan kayuhan seringkali loss disertai suara kasar di bagian cassette. Ternyata menurut beberapa teman bukan setting-an RD yang bermasalah, tapi disebabkan oleh kondisi mata gear (cassette). Sebagai catatan, umur cassette dan rantai saya yang lama memang sudah hampir 2 tahun. Dengan kata lain kondisi permukaan cassete telah terbentuk sesuai dengan lubang pin (mata rantai) yang lama. Ketika menggunakan rantai baru yang masih “licin”, tentu butuh penyesuaian agar pin rantai bisa “klop” saat tertancap oleh gerigi cassette. Itu logika berpikir saya. Akhirnya saya memutuskan menggunakan lagi rantai yang lama yang SAYANGNYA SUDAH SAYA POTONG TERLALU PENDEK. Jadilah saat balapan saya menggunakan rantai dengan sambungan sekitar 8 pin rantai yang baru (sedikit masalahnya saya ceritakan di paragraph lain) Read more of this post

‘Kloter’ Malam Menuju Bandung

Mengisi libur panjang 17-20 Mei lalu, sebenarnya sudah terencana ikut seorang teman untuk bersepeda di wilayah Garut. Namun karena satu dan lain hal niatan itu batal, dan terganti oleh rencana (lagi-lagi) touring ke Bandung. Tapi sedikit beda dari sebelumnya, saya dan Lita mencoba untuk memulai perjalanan menjelang malam dari Jakarta via Puncak, dan bermalam di Warung Mang Ade untuk keesokan harinya melanjutkan lagi perjalanan ke Bandung via Cianjur-Padalarang.

Jakarta – Puncak Pas (17 Mei 2012)

Tidak seperti sebelumnya, di perjalanan kali ini Missile X-Nine saya telah dipasangi rak yang saya pinjam dari sepeda Lita. Sebenarnya posisi pemasangan rak memang agak ‘maksa’ dengan mengaitkan tumpuan bawah rak di rangka seat stay, bukan rangka chain stay. Tapi setelah dipastikan, posisi rak terpasang dengan cukup kokoh.

Kami start jam 5 sore dari Jakarta (Petukangan). Cuaca Jakarta cukup cerah, dan kami putuskan untuk lewat Jalan Raya Parung-Bogor. Pada kondisi long weekend seperti ini kendala yang cukup mengganggu di sepanjang jalur itu biasanya iring-iringan rombongan pesepeda motor yang berisik dan ugal-ugalan. Tapi syukurlah, malam itu situasi jalanan lebih bersahabat. Read more of this post

Saatnya Memiliki Kecepatan Dalam Balapan

Kunci utama agar bisa melaju kencang saat bersepeda adalah dengan memaksimalkan kecepatan kayuhan kaki. Semakin cepat kaki berputar, akan semakin cepat pula sepeda menggelinding maju. Pertanyaannya, bagaimana cara agar kita bisa menambah kecepatan putaran kayuhan kaki kita sehingga bisa mencapai hasil baik dalam sebuah lomba?

Kecepatan tentu menjadi tujuan utama setiap peserta lomba balap sepeda. Hasil akhir yang diincar adalah agar bisa melaju kencang hingga finish, bahkan kalau memungkinkan bisa mendapat peringkat yang bagus. Untuk mencapainya tentu tidak sembarangan, melainkan dibutuhkan kerja keras dan latihan untuk bisa mengayuh dengan konsisten.

Kekuatan otot kaki dalam memutar pedal ada batasnya. Lantas agar tidak kelelahan bagaimana caranya? Kuncinya tentu dengan mematangkan otot-otot tubuh secara tepat , benar, dan terarah, dengan menitikberatkan pada latihan kecepatan atau Speed Work (SW) di medan onroad maupun offroad.

Untuk latihan kecepatan ini pada dasarnya membutuhkan rangkaian latihan secara berkesinambungan dalam sepekan. Ambillah satu hari khusus untuk latihan kecepatan ini. Misalnya pada hari Selasa, Kamis, atau Sabtu. Dalam satu hari itu upayakan untuk mengayuh pedal dengan cadence mencapai kisaran 80-100 rpm, dengan menggunakan gear yang disesuaikan dengan kondisi trek. Pastikan heart rate hingga 80-90 persen dari angka maksimal (Nah, ini gua belum pernah ukur karena belum punya alatnya. J). Read more of this post

Meretas Tiga Tapal Batas #2

Hari Kedua, Salawu-Malangbong-Sumedang-Jatinangor(140km)

Udara dingin masih menusuk. Suara kendaraan yang sesekali lewat memecah keheningan dinihari. Lirik jam, sudah hampir jam 5 pagi. Kumandang Adzan baru saja selesai, dan saya harus segera bersiap-bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Jarak hari ini 2 kali jauhnya dari jarak kemarin.  Selesai sarapan  dan berbincang, saya pun pamit. Sungguh keluarga yang hangat dan menyenangkan. Dan nanti, saya berjanji untuk kembali lagi ke sini.

Matahari pagi begitu hangat saat saya meninggalkan rumah. Selepas perbatasan, suasana yang tadinya berupa areal sawah luas berganti menjadi wilayah pemukiman. Bila dari rumah menuju Garut merupakan jalur tanjakan, menuju ke arah Tasik justru kebalikannya, jalan relatif datar dan menurun. Tapi memang, pemandangan tak seindah dari Kecamatan Cilawu menuju Salawu.

Sesekali saya berpapasan dengan bus tujuan Jakarta. Lucu, tatkala pikiran tergelitik oleh pertanyaan “Kenapa tak saya stop saja bus itu, dan dalam 4 jam ke depan saya sudah sampai Jakarta, tak perlu menunggu besok.” Ah, sudahlah.. itu bukan pertanyaan putus asa. Setidaknya tidak untuk saat itu.

Saya sempatkan mampir sejenak di sebuah minimarket. Sang kasir, wanita cantik yang tengah hamil muda menyempatkan bertanya tujuan saya. Saya katakan saya akan menuju Malangbong melalui Kota Tasik. Dengan lugas ia memberi masukan yang sedikit “memaksa” agar saya melalui jalan baru saja, jangan melalui Tasik yang katanya terlalu jauh memutar.

Read more of this post

Meretas Tiga Tapal Batas #1

Mungkin, kalau mau dibilang perjalanan ini terencana oleh karena sedikit rasa “iri”. Ada yang mengemban misi dengan melakukan gowes Jepara-Bandung, ada juga para sepuh yang touring Jakarta-Solo di hari yang sama. Makanya, saya ingin ikut meramaikan euforia touring saja, selain tentu saja untuk mencari sebuah catatan kehidupan baru dalam sebuah perjalanan baru, meski ke tempat yang sebagian besar telah saya sambangi sebelumnya.

Mengapa “Meretas Tiga Tapal Batas” ? Karena memang saya menuju dan melewati 3 perbatasan besar Kota/Kabupaten, yakni Perbatasan Bandung–Garut, Perbatasan Tasik–Garut, dan yang terakhir adalah Perbatasan Garut-Sumedang. Tentu tak inchi demi inchi wilayah di atas saya sambangi, melainkan sekedar menginjakan kaki dan memutar roda di wilayahnya untuk sekedar merekam, dan menikmati berbagai fenomena yang ada dari alat yang bernama panca indera, dan seperangkat teknologi murahan.

Hari pertama, Bandung-Kampung Naga

Sabtu pagi, 21 April 2012, perjalanan saya mulai dengan berangkat dari Lb.Bulus menggunakan Bus Primajasa Lb.Bulus-Tasikmalaya. Tujuannya adalah Gerbang Tol Cileunyi, baru dari sana nanti saya akan mulai mengayuh ke Kampung Naga. Malam sebelumnya memang sedikit mengalami dilema antara memlilih untuk full mengayuh dari Jakarta, atau start Bandung saja. Namun dengan berbagai perhitungan terutama masalah waktu, saya memilih yang kedua. Pertimbangan lainnya juga dalam perjalanan kali ini saya masih belum menggunakan rak pannier di sepeda. Memang tidak berat, namun sepanjang touring tetap saja saya akan  menggendol backpack berisi sleeping bag dan beberapa pakaian ganti yang membebani.

Read more of this post

Segores Kisah di Libur Paskah

Jumat 6 April 2012 dinihari, alarm pagi berdering tepat pukul 03.30. Tandanya saya harus segera bersiap menuju Cibubur. Ya, hari itu, bertepatan dengan libur perayaan Hari Paskah bagi kaum kristiani, Saya, Dhani Chagi, Eko, Abdu, dan Lita telah menyusun rencana untuk touring ke Bandung via Cariu. Memang baru sebulan sebelumnya saya melakukan perjalanan sendirian dengan jalur yang sama. Namun bagi teman yang lain, trip kali ini menjadi perjalanan nostalgia. Dhani misalnya, terakhir menempuh jalur yang sama yaitu sekitar tahun 2008. Begitu juga Eko, sudah cukup lama. Sedangkan bagi Lita ini adalah kali keduanya. Nah, untuk Abdu, ini touring perdana. Itu juga yang membuat perjalanan kali ini menjadi sarat makna.

Disepakati sesampainya di Bandung nanti kami baru akan mencari penginapan dan pulang keesokan harinya dengan kereta. Namun bila tak dapat penginapan, semua sepakat untuk bermalam di Stasiun Bandung. Karena itulah bawaan masing-masing dari kami cukup lengkap, termasuk sleeping bag untuk kami pergunakan bila rencana pertama tidak tercapai. Tiket kereta sendiri sudah dipesan sebelumnya, yakni untuk hari Sabtu 7 April 2012 dengan jam keberangkatan pukul 06.30 pagi.

Read more of this post

Mengasah Elemen Dasar MTB XC

Photo by: Rizal Utara

Kemarin sore saya berbincang singkat dengan seorang trainner teknik-teknik bersepeda, pelatih, mantan atlet, sekaligus penggiat sepeda yang masih aktif dalam berbagai race MTB XC. Dia adalah Marta Mufreni. Obrolan itu tentu saja seputar sepeda. Kami berbicara tentang bagaimana teknik latihan yang baik dan benar, khususnya untuk MTB XC. Banyak pelajaran yang didapat, meski harus terus digali lebih dalam lagi.

Dan di Majalah Sepeda edisi 2-2012 yang saya temukan di laci meja kantor pagi ini, ternyata terdapat halaman yang khusus membahas hal yang saya bicarakan dengan Marta. Judul artikel tersebut “Mengasah Elemen Dasar MTB XC”, yang ditulis Oki Raspati, salah satu pelatih Timnas MTB Indonesia.

Bagi saya artikel itu sangat bagus dan penting, maka itu saya tulis dalam blog saya ini. Bagi yang belum sempat membaca, semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang seluk beluk dan pemahaman untuk ber-MTB XC dengan performa yang baik.

Untuk meningkatkan potensi dan perfoma, seorang pesepeda MTB cross-country (XC) menitikberatkan latihan pada tiga elemen dasar terpenting, yakni Kekuatan (power), Daya Tahan (endurance), dan Kemampuan Teknikal. Berikut keterangan untuk melatih elemen-elemen tersebut:

Read more of this post