Kalau Merasa Sakit, Maafkan…

Sore nganggur, tanpa kerjaan. Iseng utak-atik berbagai domain, hingga akhirnya menemukan sederetan kata-kata  yang terangkum dalam puisi berjudul “Puisi Gentle”. Penulisnya bukan sekelas Rendra saya rasa, tapi untuk makna kok menurut saya tidak kalah dengan apa yang ditulis Rendra.

Penulisnya bernama Andi Abdullah Sururi, seorang redaktur pelaksana di portal media ternama Indonesia.

Puisi Gentle

Kalau mau pergi, pergi saja
Ladang masihlah teramat luas
Tapi jangan seret orang yang sedang mengaji
Dunia tidak melulu soal materi

Kalau tak puas, carilah terus
Nanti akan kau temukan tempat sejatimu
Tapi jangan berkicau ke sana sini
Kita bukan burung tak berotak dan berperasaan

Kalau merasa sakit, maafkan
Jangan dendam
Nanti kau tak pernah sembuh

*) Untuk beberapa kawan  yang tak lagi di sini.

Jalur Cepat, atau Jalur Lambat?


Dari dulu bahasan mengenai pesepeda yang gowes di jalur cepat seakan nggak pernah ada habisnya. Sebagian menganggap wajar, sebagian lagi menganggap salah. Ada juga yang netral, artinya dia berpendapat saat jalur cepat mulai macet, baru dia akan gowes di jalur cepat. Alasannya sama, selain karena macet, perilaku motoris di jalur lambat juga dianggap berbahaya.

Akhir-akhir ini bahasan mengenai hal itu kembali memanas, paling tidak di wall Facebook saya, hehehe. Berawal dari diskusi singkat dengan seorang teman mengenai hal di atas, iseng-iseng saya membuat status Facebook begini;

“Apa bedanya motoris yang nyerobot lampu merah, dengan pesepeda yang ngegowes di jalur cepat?”  

Wow, berbagai tanggapan pun muncul. 100% yang komentar adalah para penggiat sepeda. Jawabannya beragam, mulai dari yang serius sampai yang menjawab apa adanya dan nggak nyambung. Beberapa meski menjawab secara halus, tapi terlihat seakan mereka nggak sudi disamakan dengan para motoris yang melanggar aturan.
Read more of this post

Logika

“Karena kepicikan ditimbulkan oleh kecintaan akan pengakuan…”

Siapa yang tidak mau dianggap penting, menjadi sesuatu yang spesial di lingkungan, dan mampu menahan godaan untuk berbeda dengan orang lain yang lebih ‘biasa’ ?

Untuk mengatakan tidak, sesungguhnya sangat berat. Masalahnya, jalan apa yang dipilih? Salah satu jalan termudah Anda tahu? Adalah kemarahan, dendam, dan kebencian terhadap orang lain.

Interaksi keseharian terkadang begitu manis, namun bisa saja terbungkus rapih oleh kepentingan pribadi. Sekali, dua kali, selalu tertutupi dengan kalimat manis berikutnya. Bahkan saat baru terucap, bisa saja kalian sadar dan kaget, “Mengapa saya melakukan hal itu?” tapi bagaimana, kemarahan selalu datang lebih cepat dari logika.

“Logika hanyalah kura-kura, untuk melawan Kemarahan berwujud leopard yang lapar…”

Lalu? Sudahlah, bila menemui perlakuan seperti itu, simpan dalam hati. Hadapi dengan logika, dengan begitu kemarahan dan kedengkian yang menjadi pijakan si penyerang akan hancur seketika, menjadi sebuah rasa terpesona terhadap diri kita.

“Melawan dengan kemarahan, maka kita pun telah kehilangan pijakan atas diri kita sendiri…”

 

Apa Kabar Telepon Umum?

Coba diinget-inget, kapan terakhir kali lo ngegunain telepon umum (koin)? Kalo gua pribadi, terakhir pake kayaknya pas jaman SMA, dan udah lupa waktu itu dipake untuk nelpon siapa. Hmm, artinya udah lebih dari 10 tahun yang lalu, lama banget ya.

Sekarang ini sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya, gua ngelewatin beberapa titik yang ada telepon umum koinnya. Mulai dari yang berjejer 4 unit telepon, hingga yang cuma ‘sendirian’.

Tiap ngelewatin, udah pasti telepon umum-telepon umum tadi selalu sepi tanpa satupun pemakai, terbengkalai. Padahal dulu waktu jaman gua SMP, untuk mengobati rasa gatel denger suara cewek gebetan di ujung telepon, larinya ya ke telepon umum. Nah, tiap kali ke lokasi telepon umum deket rumah, antriannya panjang, padahal ada 4 unit telepon di situ.

Read more of this post

Hidup Saya Dimulai Dari Tempat Ini

Guna menghindari macet di Pasar Cipulir, untuk menuju daerah Blok M akhirnya saya jalan sedikit memutar lewat ‘jalur tikus’ daerah Ulujami, Kampung Baru, Permata Hijau, dan tembus ke Kebayoran Lama. Jalur tikus ini bisa dibilang jalur memori, kenangan, atau apapun itu yang menyangkut kebandelan masa lalu saya. Yes, salah satu tempat yang saya lewati di jalur itu adalah sekolah SMP saya dulu, yang di sekitarnya merupakan tempat tinggal teman-teman sekelas saya juga.

Ternyata cukup menyenangkan saat melihat beberapa rumah teman saya yang masih belum berubah, yang dulunya di bagian halaman rumah tersebut saya pakai untuk bolos, ngerokok ngumpet-ngumpet untuk menghindari guru yang lewat, bahkan juga jadi tempat transaksi tuker pinjem buku stensilan. Sungguh masa lalu yang jahiliyah, namun indah.

Read more of this post

Pernahkah Anda merasakan hari dimana hidup Anda terasa begitu oportunistik?

Beberapa hari terakhir saya seakan menghirup udara segar beraroma optimisme. Mungkin Anda juga sering mengalami, saat dimana kita menjalani hidup penuh harapan dan berjuang untuk banyak hal yang kita percaya.

Ketika kita merasa ada sedikit hal yang berbau inovasi dari diri kita, bukan imitasi, dengan menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, apapun dan sekecil apapun itu. Juga memutuskan untuk tidak terlalu banyak berkecimpung dalam lingkungan yang penuh aroma inkonsistensi.

Belum lagi saat kita merasa dipertemukan dengan beberapa orang yang tepat, yang menjalani kehidupannya dengan pandangan terang dan independent. Tentu mereka bukan pendorong utama hidup kita, hanya saja paling tidak dapat menjadi probabilitas yang tetap hidup untuk setiap pikiran yang menyenangkan dalam diri kita.

Yeaah, sekian. Ini cuma coretan menunggu jam pulang kantor.

Selamat sore.

Hal Kecil

Ternyata menyenangkan saat kita memandang besar hal-hal kecil di sekitar kita, terlebih lagi yang tak terduga. Anda tahu, baru saja saya menerima ‘senyum gratis’ dari bayi di gendongan ibunya saat saya sedang kesal mengantri di supermarket kecil dekat kantor akibat (menurut saya) ketidakbecusan sang kasir.

Sekilas bukankah senyum bayi adalah hal kecil yang biasa terjadi? Tetapi, (mungkin agak berlebihan) justru seketika rasa kesal saya saat itu berubah jadi rasa senang, bahagia, dan gemas saat melihat kurva sempurna yang terbuat dari garis bibir sang bayi itu.

Read more of this post