Kisah Lensa di balik Bencana

Kebakaran, tentu mengerikan. Seringkali karena belum pernah mengalami (amit-amit!), kebakaran hanya akan menjadi sebuah bencana yang kita dengar melalui cerita, maupun media massa. Simpang siur kabar mulai dari penyebab, kerugian materi, jumlah korban, dan lain-lain pun kita dengar. Setelah itu ya sudah, bencana kebakaran yang kita lihat akan terlupakan. Terganti dengan gosip lain, juga tayangan TV lain yang lebih menghibur.

Namun di sisi lain, mungkin jarang di antara kita yang sadar, bahwa dibalik peristiwa kebakaran, terdapat banyak kisah yang tidak terekam oleh telinga dan mata kita yang terbatas ruang, waktu, dan jarak ke lokasi bencana. Mulai dari aksi heroik warga yang berinisiatif memadamkan, tangisan warga pendatang yang putus asa karena kamar hunian kosnya telah hangus, sampai wanita yang histeris karena dilarang warga saat ngotot untuk masuk ke rumahnya yang telah terbakar demi menyelematkan ijazahnya. Masih banyak kisah lain dibalik itu semua.

Read more of this post

Cerita Kang Heru

Entah berapa umurnya, saya ngga sempat tanya. Pria ini bernama Heru (saya memanggilnya Kang Heru), yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Monumen Nasional (Monas). Kang Heru adalah talent foto dadakan saya untuk pembuatan kartu lebaran kantor.

Laki-laki asal Tasik, bicaranya mirip orang teler, dan gemar sekali menyebut nama orang lain saat ngobrol. Misalnya saat ditanya tentang gaji, dia menjawab, “Gaji gua mah kecil, gedean si Ucup,” ada lagi begini; “Kalo makan paling ngebon di warteg, si Mira yang beliin”. Siapa Mira, siapa juga Ucup? Mungkin dipikirnya saya kenal.

Disela-sela take foto (5/08/2011), ngobrol ngalor-ngidul dengan Kang Heru ternyata cukup menyenangkan, juga mencengangkan. Terutama saat mendengar tentang keseharian dia dulu dan sekarang. Dulunya, Kang Heru bekerja sebagai Joki 3 in 1 dan tukang parkir liar di seputaran Sudirman. Saat ditanya lebih enak mana dengan pekerjaannya yang sekarang, tanpa ragu dia bilang lebih enak yang dulu. Loh, bukannya pekerjaan yang sekarang gajinya lebih pasti?

Read more of this post

Pagi di Sunda Kelapa.

Pagi ini (2 April 2011) iseng hunting ke Sunda Kelapa. Selalu Banyak hal menarik yang bisa dicari di sana, termasuk yang sudah pasti adalah tentang kehidupan manusianya.

Bagaimana kesabaran si Penjaga Sampan tua yang menawarkan saya untuk menjadi penumpang pertamanya hari ini dengan banting harga. “Penglaris,” katanya.Begitu juga dengan kehidupan para Kuli Panggul yang selalu bekerja tanpa protes. Meskipun protes, dilakukannya dengan berbisik, contohnya ke saya pagi ini. “Kerja begini, badan capek tapi gaji kecil,”Setelah itu, muatan datang, tetap saja pundaknya kembali digunakan untuk mengangkut ber-sak-sak semen melewati sebatang kayu penghubung pelabuhan dan dek kapal.Yang tak kalah “asik” adalah saat melihat hubungan simbiosis mutualisme antara mbakyu penjaja minuman dengan para kuli di saat senggang. Kehadiran si mbakyu ibarat oase di tengah gurun, satu-satunya primadona cantik di tengah lingkungan pria-pria kekar penunggu pelabuhan yang butuh hiburan.

Merekapun mengerubungi mbakyu, dampaknya dagangan mbakyu laku, uang terkumpul ke dalam saku.

Kuda Lumping; Lawakan dan Magis

Polah bocah bengal itu mengocok perut penonton, terlebih saat beradu omongan dengan lelaki sangar pemimpin kelompok Kuda Lumping. Tak begitu jelas apa yang dibicarakan, sesaat setelah menjawab pertanyaan, si bocah dihadiahi cambukan diiringi teriakan pura-pura kesakitan, sontak penonton pun tertawa. Terlebih saat si bocah berlari menghindari kejaran dan tertangkap, ia “ditenteng” kembali menuju tengah-tengah arena pertunjukan. Kali ini si bocah dipaksa untuk memakai topeng, dan menari sendirian, yang menjadi pemandangan kontra dari unsur magis yang melekat dalam setiap pertunjukan Kuda Lumping, paling tidak untuk awal pertunjukan.

Read more of this post

Mari Merekam Kehidupan

Kita hidup dalam sebuah realitas. Di rumah, kantor, bahkan juga jalanan, semua terjadi secara apa adanya meski banyak juga yang terencana. Kita merupakan subjek dari kehidupan, namun bagi yang lainnya, kita pun merupakan objek sebuah momen yang patut direkam dan diabadikan. Proses pengabadian itu bukan hanya menyenangkan (paling tidak bagi saya), melainkan juga telah menjadi sebuah seni, seni yang jujur, apa adanya, dan tidak dibuat-buat lewat sebuah media kamera, bernama street photography..

Banyak kejadian menarik atau momen keseharian yang unik yang dapat direkam. Semua bersumber dari mata kita, entah anak-anak pulang sekolah, tukang ojek payung, perayaan 17 Agustusan, karnaval imlek dan masih banyak lagi yang lainnya, yang bila terangkum akan menjadi sebuah karya yang tak ternilai harganya.

Mari… Merekam kehidupan.