Mengulang Perjalanan (Jakarta-Bandung #2)

…Fenomena dari sebuah kehidupan di banyak tempat, juga kebebasan, itulah yang saya cari. Dan mendapatkan itu semua dari atas sepeda membuat saya lupa akan beratnya rasa lelah dalam setiap perjalanan. Benar-benar menyenangkan…

Akhir bulan lalu mendadak terpikir untuk kembali melakukan perjalanan melalui jalur klasik nan eksotis, Jakarta–Bandung via Cariu. Tak ada misi, selain waktu kosong yang harus diisi. Maka jadilah. Terencana, touring dilakukan pada Sabtu 3 Maret 2012. Yak, sendirian saja tentunya. Perjalanan ini tanpa pannier karena memang tak ada lubang baut untuk rak di seat stay Missile X Nine yang saya pakai. Toh ini hanya one day trip, semua barang bawaan cukup masuk ke dalam 3 kantong kecil di belakang jersey, tak jadi masalah.

Start dimulai pukul 05.15 pagi. Malam sebelumnya saya berharap hari itu tak akan turun hujan. Meski akhirnya terkabul Tuhan, langit pagi sudah pekat, ditambah angin kencang begitu menusuk tubuh yang baru terisi semangkuk bubur kacang. Saya tak paham tentang teori angin. Yang saya tahu semakin terbuka suatu wilayah, semakin kencang angin bertiup. Tapi di sepanjang jalur Lb.Bulus – Cilandak yang notabene merupakan rentetan gedung angkuh, angin sudah jadi cobaan untuk mengayuh. Alhasil, kombinasi gear ringan menjadi pilihan, daripada melawan alam. Read more of this post

Performa Missile X-Nine di Jalur XC (Review)

Setelah merasa frame lama (Sub Master 17’) sudah terlalu kekecilan, akhirnya pilihan untuk ganti frame pun jatuh ke Missil X-Nine 19’.  Sebenarnya saya udah cukup lama naksir dengan merk ini setelah melihat tipe Missile Comp dan Missile Team. Tapi ternyata, tipe X-Nine memang lebih membuat kepincut dari segi desain walaupun harga memang lebih mahal.

Saya memilih X-Nine warna kombinasi warna orange, hitam, dan biru, dengan ukuran 19’. Cat yang membalutnya adalah model ‘kulit jeruk’ atau kasar, bukan cat solid. Dengan bobot sekitar 1200 gram, dibanding frame Sub Master 17’ milik saya sebelumnya, bobot frame X-Nine masih lebih ringan. Begitu juga dengan Missile tipe Comp dan Team yang bobotnya sekitar 1400-1600 gram.

Nah, gimana dengan performa X-Nine di track XC? Kebetulan kemarin saya udah mencoba di (Jalur Pipa Gas) JPG. Dan setelah menyiksa selama full 4 lap, X-Nine memang cukup mantap.

Read more of this post

Menjajal Elok Tanjakan Emen (Torehan Perjalanan Bersepeda Jakarta-Tangkuban Perahu)

…Bukan hanya elok. Bagi warga lokal, tanjakan Emen adalah kisah masa lalu yang penuh misteri, mistis, bahkan dianggap sebagai sebuah awal dari rentetan tragedi yang sering terjadi di lokasi hingga saat ini. Dibalik itu semua, dapat mengayuh pedal di kemiringan tajam dan panjang tanjakan Emen telah membayar semua rasa penasaran saya.

Memanfaatkan libur panjang Imlek 22-23 Januari 2012 lalu, Saya, Bimar, Adit, Lita, dan Rifai melakukan perjalanan Jakarta–Tangkuban Perahu. Namun seperti apa yang tertulis pada prolog di atas, perjalanan kali ini lebih dari sebatas menjajal tanjakan Emen, melainkan kembali menggali sebuah pengalaman melalui detik demi detik perjalanan panjang dengan sepeda.

Kali ini jalur yang disepakati dilewati adalah via Pantura, yakni Bekasi-Cikarang-Karawang-Cikampek-Purwakarta-Subang-Tangkuban Perahu. Rencana awal, target perjalanan hari pertama kami adalah langsung finish di Gerbang Tangkuban Perahu, untuk keesokan harinya lanjut nanjak ke Lokasi Wisata Kawah Gunung Tangkuban Perahu, lalu turun ke arah Bandung untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan kereta api. Read more of this post

(Review ) Maxxis Larsen TT 2.0 di Tiga Karakter Trek

Kalau di-googling, entah sudah berapa banyak review tentang performa ban yang satu ini. Yes, Maxxis Larsen TT memang salah satu tipe ban yang banyak disukai oleh penggiat sepeda, khususnya yang hobi blasak-blusuk di trek XC atau Cross Country. Tapi ngga ada salahnya saya sedikit nge-review performa ban ini di tiga trek berbeda jenis yang baru-baru ini saya jajal.

 Aspal Mulus.

Larsen TT 2.0 bisa dipompa di tekanan hingga 65psi, selama ban dalam yang dipakai  juga mendukung untuk tekanan sekeras itu. Saat nanjak hari Sabtu (4/2/2012) lalu, karena ban dalam yang kurang bagus, tekanan ban saya hanya sekitar 40psi untuk ban belakang, dan 50psi untuk ban depan. Untuk melibas jalur aspal mulus menanjak macam jalur Gadog-RA misalnya, tekanan tersebut sih masih kurang.

Tapi dari banyak reviewrolling eficiency Larsen TT dibanding ban Maxxis jenis lain termasuk salah satu yang paling baik. Dan di jalur Gadog – RA kemarin, cengkraman putaran ban juga terasa sangat stabil, terutama saat meluncur di turunan dengan speed  tinggi.

Read more of this post

Sentul Uphill Race 1PDN Series 2012 (Catatan Pribadi)

Berbeda dengan dua seri sebelumnya, 1PDN Uphill race kali ini bener-bener penuh kejutan. Salah satunya adalah track yang dilalui. Kalau candaan seorang teman, 4 km suguhan jalur offroad menanjak itu ibarat ‘Jembatan Shiratal Mustaqim’ yang harus dilewati pembalap. Siapa yang banyak beramal (baca: berlatih) akan dengan mudah melewati dan menggapai tempat terhormat, begitu juga sebaliknya.

Memangnya  seberapa berat? Meski jawabannya subjektif karena setiap orang berbeda kemampuan, tapi ungkapan “Hampir semua pembalap di kelas Men Elite aja nuntun sepeda kok!” bisa jadi acuan kalau jalur offroad-nya cukup menyiksa.

Dari segi elevasi sebenarnya tidak curam-curam amat. Hanya saja kontur tanah lembek, bebatuan lepas, rumput, hingga alang-alang yang sengaja ditebang untuk membuka trek, menjadi ‘neraka’ tersendiri, terlebih karena sapuan air hujan yang mengguyur trek sebelum dan sepanjang waktu balapan.  Alhasil, pemandangan TTB massal menjadi sajian empuk para fotografer yang ‘nangkring’ di lokasi.

Read more of this post

Cigentis; Curug dan Tanjakan Eksotis.

…Ternyata benar, baru beberapa puluh meter memasuki tanjakan berbatu, saya sudah dipaksa mengeluarkan seluruh tenaga ekstra. Bukan cuma tenaga, otak pun dituntut untuk bekerja. Ini bukan cuma tanjakan bebatuan tajam, melainkan juga bercampur dengan tanah dan beton yang sedikit basah. Itu yang membuat berat…

Setelah dua minggu sebelumnya Bimar menjajal sendirian, akhirnya kemarin (Minggu, 6/11/2011) dia mengajak Saya dan Adit, yang penasaran dengan ceritanya tentang ‘keelokan’ jalur dan tanjakan menuju Curug Cigentis.

Bagi yang belum tau, Curug Cigentis secara administratif terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Pangkalan, Karawang. Namun menurut wilayah pengelolaan hutan, curug ini termasuk RPH Cigunungsari BKPH Purwakarta. Makanya di tiket masuk, yang tertulis adalah wilayah Purwakarta. Itu juga yang sempat jadi pertanyaan kami bertiga kemarin.

Kami start dari Lebak Bulus sekitar pukul 5.30 pagi. Rute yang dilewati adalah jalur Jalan Raya Bogor, Cibubur, lalu terus ke arah Cileungsi, Jonggol, hingga sampai di perempatan Cariu. Sebelumnya sempat berhenti cukup lama untuk mengganti ban dalam belakang sepeda saya yang terkena paku di wilayah Cibubur. Setelah itu perjalanan dilanjutkan tanpa kendala.

Singkat kata, sesampainya di perempatan Cariu yang kalau belok kanan adalah jalan menuju Bandung via tanjakan Cariu, maka untuk menuju Curug Cigentis kita belok ke arah kiri, untuk selanjutnya masuk ke arah Kecamatan Pangkalan, Karawang.

Read more of this post

Nanjak, dan menikmati pemandian Gunung Pancar

Untuk kesekian kali, Sabtu kemarin (22/10/2011) saya bersama Lita dan Iyunk, kembali menikmati sajian khas tanjakan Gunung Pancar berupa sejuknya udara pegunungan di tengah hutan pinus yang luas. Bukan cuma itu, untuk pertama kalinya kami juga singgah ke tempat pemandian air panas Gunung Pancar yang cukup tersohor.

Perjalanan dimulai dari Lebak Bulus, Jakarta, sekitar jam 06.00 WIB melalui jalur Jalan Raya Bogor. Di tengah jalan bertemu dengan seorang goweser yang mau nanjak ke Bojong Koneng. Pagi itu rencananya kami ingin lewat jalur biasa melewati fly over Pasar Cibinong, lalu belok di jalan masuk Sirkuit Sentul, dan bablas lewat Babakan Madang. Tapi sebelum Pasar Cibinong, kemacetan sudah terlihat parah, bahkan di atas fly over pun kendaraan sudah stuck, berhenti.

Read more of this post